Ketua Bidang Advokasi DPP Partai Gerindra, Habiburokhman mengatakan
manipulasi data pemilih tetap merupakan modus klasik kecurangan
pemilihan umum. Menurutnya, dengan DPT yang semrawut mudah sekali
terjadi penggelembungan suara partai tertentu tanpa terdeteksi di tempat
pemungutan suara.
"Untuk mewaspadai kecurangan DPT, Gerindra kerahkan 10.000 kader
untuk mengkritisi dan memantau data pemilih tetap tersebut," kata
Habiburokhman di Gerindra Media Center, Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu
(19/2/2014).
Habiburokhman menuturkan, untuk mewaspadai kecurangan DPT tersebut,
Gerindra akan menggelar apel siaga 10.000 kader tersebut di halaman
kantor DPC Gerindra Kabupaten Bekasi. Acara tersebut akan dihadiri oleh
Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto.
"Kami dengan segenanp sumber daya berkomitmen ingin menjadikan pemilu demokratis yang dimulai dari validnya DPT," ucapnya.
Habiburokhman menuturkan, Gerindra menilai ada perbedaan data pemilih
tetap yang didapatkan dari eksternal hard disk yang telah dibagikan KPU
kepada partai politik dengan data yang tertera di website KPU. Gerindra
mencermati bahwa ada 3,7 juta kasus atau sekitar 8,5 juta potensi
pemilih ganda.
"Kami sudah laporkan 3,7 juta kasus itu yang berupa 120.000 lembar
dokumen mengenai data DPT yang bermasalah. Namun, 120 ribu lembar
dokumen itu hanya dijawab dengan dua lembar surat yang isinya hanya
menyederhanakan masalah tanpa melampirkan bukti apapun," tuturnya.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !