Kanti W. Janis mengikuti jejak sang ayah, Roy B.B Janis terjun ke dunia
politik. Roy yang dulu sempat menjadi kader PDIP, belakangan vakum dari
politik dan mendorong Kanti untuk meneruskannya. Namun "kendaraan" yang
digunakan bapak dan anak itu berbeda. Sebab, Kanti memilih bergabung
dengan Partai Amanat Nasional (PAN).
“Saya mencoba terjun ke dunia politik setelah ayah sudah vakum beberapa tahun lalu. Setelah saya bergabung dengan Partai PAN dan saya pilih dapil 3 yang akan duduk di komisi 4. Harapan saya bisa membenahi sektor pertanian dan kehutanan. Saya ingin tidak ada orang kelaparan lagi di Indonesia," kata putri kedua dari pasangan Roy B.B Janis dan R.A Jeni Suryanti Jonosewojo saat ditemui dalam acara pendidikan kepada warga Jakarta di Sasana Krida, Pademangan, Jakarta Utara.
Menurut Kanti, kedaulatan pangan Indonesia perlu diperkuat lagi. Jangan terlalau dicampuri pihak asing. Indonesia harus mandiri mengelola pertanian dan kehutanan. Jangan sampai potensi pertanian dan kehutanan yang begitu besar tidak memberikan manfaat kepada masyarakat.
"Prihatin juga kalau mendengar masih ada warga Indonesia yang kelaparan. Padahal efek dari kelaparan bisa menimbulkan hal-hal yang berbahaya. Mereka yang kelaparan bisa melakukan apa saja. Orang lapar kadang tidak bisa menunggu (sabar). Untuk itu, kembalikan pengelolaan pertanian dan kehutanan secara benar agar rakyat sejahtera," tegas jebolan fakultas hukum ini.
“Saya mencoba terjun ke dunia politik setelah ayah sudah vakum beberapa tahun lalu. Setelah saya bergabung dengan Partai PAN dan saya pilih dapil 3 yang akan duduk di komisi 4. Harapan saya bisa membenahi sektor pertanian dan kehutanan. Saya ingin tidak ada orang kelaparan lagi di Indonesia," kata putri kedua dari pasangan Roy B.B Janis dan R.A Jeni Suryanti Jonosewojo saat ditemui dalam acara pendidikan kepada warga Jakarta di Sasana Krida, Pademangan, Jakarta Utara.
Menurut Kanti, kedaulatan pangan Indonesia perlu diperkuat lagi. Jangan terlalau dicampuri pihak asing. Indonesia harus mandiri mengelola pertanian dan kehutanan. Jangan sampai potensi pertanian dan kehutanan yang begitu besar tidak memberikan manfaat kepada masyarakat.
"Prihatin juga kalau mendengar masih ada warga Indonesia yang kelaparan. Padahal efek dari kelaparan bisa menimbulkan hal-hal yang berbahaya. Mereka yang kelaparan bisa melakukan apa saja. Orang lapar kadang tidak bisa menunggu (sabar). Untuk itu, kembalikan pengelolaan pertanian dan kehutanan secara benar agar rakyat sejahtera," tegas jebolan fakultas hukum ini.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !