Perempuan sebagi bagian dari warga negara memiliki kesempatan yang
sama untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan 2014 ini, maupun
pemilu-pemilu lainnya. Sayangnya perempuan sering dinafikan, padahal
perempuan merupakan jumlah pemilih terbesar dalam Pemilu 2014 ini.
Demikian disampaikan Antik Bintari dalam Seminar Sehari yang mengusung
tema “Perempuan Dalam Partai Politik”.
Seminar sehari yang diselenggarakan Forum Pemberdayaan Perempuan
Indonesia (FPPI) di Aula Kelurahan Cipadung Kidul, Komplek Bumi
Panyileukan Blok F12 no.31, Jumat (7/22014) dihadiri sekitar 50 peserta
anggota Penggerak PKK Kelurahan Cipadung Kidul Kec. Panyileukan Kota
Bandung.
Antik Bintari S.IP.,MT pofesional muda yang menjadi pembicara
tunggal dari Puslitbang Gender dan Anak Universitas Padjadjaran Bandung
mengungkapkan, perempuan sebagai bagian dari warga negara itu punya
kesempatan yang sama untuk dipilih dan memilih dalam pemilu 2014 ini,
maupun pemilu-pemilu sebelumnya. Tetapi dengan kekuatan
peraturan-peraturan dan perudangan yang baru, ada kuota 30 persen,
sehingga mengharuskan adanya porsi perempuan, minimal 30 persen itu di
parlemen.
"Saya menyambut baik, bahwa negara pada saat ini sudah berusaha
mengakomodasi kepentingan perempuan, meskipun secara kualitas tetap
dua-duanya, baik laki-laki, maupun perempuan tetap berkontribusi.
Menurut saya selama ini tidak fair, keberadaan perempuan sering
dinafikan, padahal perempuan merupakan pemilih terbesar jumlahnya di
Indonesia,” ujarnya.
Disinggung tentang antusias perempuan dalam berpolitik, Antik
menjawab “Ada kemungkinan memang yang a-politis makin tinggi, yang
golput juga akan makin tinggi, tetapi kalau saya prinsipnya, bahwa kalau
kita bertanggung jawab kepada negara ini, maka pada pemilu nanti
harusnya bersama-sama secara bertanggaung jawab, memiliki motivasi yang
tinggi untuk memilih yang tepat."
Ungkapan ini senada dengan pernyataan Sukadi, Ketua Panitia Pemilihan
Kecamatan (PPK) Panyileukan. Di tempat terpisah Sukadi mengatakan,
kalau masyarakat tidak memilih pada pemilihan umum nanti, apalagi
didasarkan kepada sikap apatis, ini akan menjadi persoalan bagi
kehidupan demokrasi kita.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !