Hari masih pagi. Namun wajah ceria yang biasanya tampil di televisi
sambil berjoget-joget itu tampak kuyu. Caisar Aditya Putra, atau yang
lebih dikenal sebagai “Si Goyang Caesar” seperti layu. Suaranya serak.
Berkali-kali ia bersin.
Kelelahan mungkin penyebabnya. Maklum,
baru hari Minggu lalu ia pulang dari Lampung. Sebuah koper ukuran besar
bahkan belum dibongkar di ruang tamu rumahnya. Di Lampung, ia menghelat
pernikahan sederhana bersama istri barunya, Indadari Mindrayanti.
Tanpa istirahat, Caisar langsung disibukkan jadwal pekerjaan yang menumpuk. Program acara regulernya di televisi, Show Imah dan Yuk Keep Smile tak bisa ditinggal. Belum lagi syuting tambahan untuk program lain.
Untuk dua program yang membesarkan namanya itulah, pria 25 tahun ini selalu berusaha konsisten. Saat dikunjungi VIVAnews di rumahnya, kawasan Cibubur, Jakarta Timur, Kamis, 10 April 2014 ia sudah rapi sejak pukul 9 kurang.
Ia
mengenakan celana cokelat muda dan baju koko abu-abu. Tas selempang
cokelat tua tersampir di bahunya. Hanya alas kakinya yang masih sandal
jepit. “Kita ke Cipinang dulu ya,” ujarnya. Pukul 10.30, ia syuting Islam Itu Indah.
Caisar
menjadi salah satu bintang tamu. Usai itu, pukul 15.30 ia sudah harus
siap di studio stasiun televisi swasta yang terletak di kawasan Mampang,
Jakarta Selatan. Dua program acara regulernya menanti.
Sibuk.
Itulah yang dirasakan Caisar saat ini. Keluar rumah pukul 9 pagi, ia
bisa baru kembali tengah malam. Padahal setahun lalu, ia bisa menganggur
seharian. Hidup Caisar memang ibarat roda yang berputar sangat cepat.
Dari tukang ojek
Tahun
lalu, ia masih bukan siapa-siapa. Lulus SMA, Caisar tak bisa
melanjutkan kuliah karena kurang biaya. Lama menganggur, ia akhirnya
berinisiatif mencari kerja. “Saya ngojek,” katanya tanpa malu-malu. Bungsu dari lima bersaudara itu mangkal di dekat rumahnya, Pekayon, Bekasi.
Caisar
memilih menjadi tukang ojek, lantaran ada sepeda motor menganggur di
rumahnya. Daripada merepotkan orang tua, kata Caisar, ia pun
memanfaatkannya. Hasilnya memang tak besar. Sehari hanya Rp40 ribu.
“Paling
saya antar dari tempat ojek ke depan gang saja,” ujarnya menambahkan.
Namun, uang itu sudah cukup untuk jajan sehari-hari. Meskipun untuk itu
Caisar harus menanggung malu. Sebab, banyak warga yang mengenalnya.
“Kalau ketemu paling bilang, ‘Oh Caisar lu sekarang ngojek?’,”
ucapnya menirukan. Ia selalu menjawab dengan jujur. Dirinya butuh uang.
Caisar yang sebelumnya sekadar tukang nongkrong pun berubah menjadi
tukang ojek.
Hanya dua atau tiga bulan profesi itu dilakoninya.
Pria kelahiran 29 Agustus 1989 itu kemudian diperkenalkan pada pekerjaan
baru oleh seorang kerabat. Ia setuju saja. Caisar pun beralih menjadi
asisten artis.
Yang pertama ditanganinya: Yadi Sembako. “Kerja pertama di Taman Safari. Ngelapin keringatnya Bang Yadi, ambilin barang-barangnya, siapin bajunya,”
tutur Caisar. Setelah itu, beberapa kali ia berpindah artis. Selain
Yadi, Caisar pernah menangani Budi Anduk dan Bopak (lihat bagian 3
wawancara Caisar: “Saya Sempat Jadi Tukang Ojek”).
Menjadi
asisten, ia harus rela dianggap “rendah”. Ia pernah dijadikan sasaran
kemarahan, dibentak-bentak. Namun ia menyadari, semua tak tanpa sebab.
Tak ada amarah yang dimasukkannya dalam hati. Caisar memilih menjadikan
keteledorannya sebagai pelajaran.
Roda kemudian berputar. Dari
Yadi, Caisar mengenal dunia panggung. Pekerjaannya kini tak lagi menjadi
asisten semata. Ia juga berperan sebagai penonton tambahan pada program
acara di mana Yadi terlibat. Caisar bertepuk tangan, membanyol, juga
berjoget.
Ia kemudian dilirik tim kreatif. Ia mulai diberi tempat
di atas panggung. Mulanya sekadar dijadikan hiburan sampingan untuk
membuka dan menutup acara. Kelamaan, ia punya program acara sendiri yang
menjadikannya aktor utama. Hingga kini, acara itu dipertahankan
lantaran share yang begitu tinggi.
Tetap membumi
Sejak
itu, dunianya berubah. Nama Caisar makin melejit. Kondisi ekonominya
membaik. Ia sudah dikontrak eksklusif sebuah televisi swasta. Ia kini
dapat membanggakan orang tua. Gaji pertama pun ia serahkan pada mereka.
Bersama
goyang hebohnya, makin banyak orang mengenal Caisar. Di YouTube,
penonton goyangnya mencapai jutaan. Kini, ia tak lagi dicibir sebagai
tukang ojek. Setiap yang bertemu dengannya justru meminta foto bersama.
Namun, Caisar tetaplah yang dulu. Sikapnya tetap membumi.
Setiap
ada yang mendekat, baik itu anak-anak maupun orang tua, semua ia layani
tanpa keberatan. Itu terbukti saat Caisar menunggu giliran syuting Islam Itu Indah di Sekolah Bahasa Kepolisian Republik Indonesia, Kamis.
Baru
turun dari mobil, Caisar langsung dikerubuti polisi wanita. Mereka
meminta foto bersama. Ada yang untuk pribadi, ada pula yang beralasan
untuk anak mereka yang menggandrungi "Goyang Caesar." Meski baru datang,
Caisar langsung melayani satu per satu.
Selesai dua segmen, giliran para bocah yang mengintip ruang tunggu Caisar. Malu-malu mereka menyapa, “Om Caisar, boleh salim sama foto bareng?”. Caisar langsung memutus wawancara dan mempersilakan mereka.
Satu
per satu, bocah-bocah itu berbaris untuk menyalami Caisar. Mereka lalu
berpose untuk difoto bersama. Melihat “kesuksesan” kawan-kawannya,
rombongan bocah lain menyusul. Sama seperti sebelumnya, mereka juga
bersalaman dan berfoto bersama.
Mereka tampak puas, karena di
setiap foto terpampang wajah ramah Caisar. Sesekali ia memasang pose
konyol. Yang jelas, ia takkan menolak. Rupanya, itu “amanah” dari sang
ayah. “Sesukses apapun, kalau ada yang minta foto bareng jangan pernah ditolak,” ayah Caisar berpesan.
Pada VIVAnews,
Caisar bersikap serupa. Ia mempersilakan kami duduk di jok depan mobil,
sementara ia memilih di tengah. Ia memang menjaga sikapnya tetap
membumi. Sebab, Caisar sadar ia datang dari bawah. “Nggak boleh songong, roda terus berputar,” katanya.
Ia
juga mengaku tak lupa pada kawan-kawannya dari masa lalu. Dengan sesama
tukang ojek tempatnya mangkal dulu, Caisar masih kerap meluangkan waktu
berkumpul. Meski baru pulang, jika ada yang menggedor pintu rumahnya
untuk berfoto bersama ia pun tetap melayani.
Keseharian Caisar juga tetap apa adanya. Sedikit-sedikit, ia membanyol. Di tengah syuting Islam Itu Indah
misalnya, ia membuat peserta tausiyah terbahak-bahak karena mendadak
bergulingan di karpet. Suatu kali, ia tiba-tiba bertepuk tangan,
mengundang tawa. Celotehannya juga meramaikan suasana.
Menjaring bidadari
Kepolosan
dan ketulusan Caisar itulah yang memikat hati istri barunya, Indadari.
Keduanya baru bertemu Oktober 2013, saat popularitas Caisar mencapai
puncak. Indadari ingin bertemu lantaran menganggap Caisar mirip adiknya.
Kebetulan,
ia juga pelaku kabaret hijab. Kelucuan Caisar mengusik perhatiannya. Ia
lantas menemui Caisar di studio televisi tempatnya bekerja. Setelah
berbincang sebentar, Indadari meninggalkan kartu nama. Saat itu,
sahabat-sahabatnya sudah mulai menggoda.
“Tapi saya nggak mau,”
ungkapnya sambil menerawang. Namun ternyata, Tuhan berkata lain. Sejak
Caisar meneleponnya sehari setelah bertemu, ia justru merasa nyambung. Tak cuma lucu, Indadari juga menilai Caisar baik hati yang tak dibuat-dibuat.
Keduanya
pun makin dekat. Komunikasi berjalan lancar, baik lewat telepon maupun
pesan singkat. Indadari sengaja tak ingin berpacaran, sebab ia
menjunjung tinggi hukum agama. Bersentuhan tangan saja ia tak berani.
Karena
itu, sejak awal Caisar menyampaikan niat Indadari sudah menegaskan, ia
ingin menjalin hubungan untuk sebuah pernikahan. Caisar menuruti. Sebab
dari awal bertemu ia sudah mengagumi wanita yang dianggapnya bidadari
itu.
“Wanita ini subhanallah, cantik dan solehah,” ucapnya.
Sayang,
hubungan mereka tak langsung mulus. Kedua keluarga saling tak
menyetujui. Ayah Indadari menginginkan putrinya menikah dengan ustad,
bukan selebriti. Apalagi, ia pernah gagal membina rumah tangga dengan
seorang pemain peran.
Sebaliknya, ayah Caisar agak memandang
sebelah mata status Indadari sebagai janda beranak satu. Apalagi, jarak
usia dengan putranya cukup jauh. Indadari lebih tua 6 tahun.
Namun,
keduanya saling berjuang demi cinta. Caisar memberanikan diri datang ke
Lampung bertemu ayah Indadari. Sedang Indadari, harus tahan mental
menghadapi sikap ayah kekasihnya yang tak ramah. Perlahan, kedua
keluarga pun luluh.
Caisar lantas diminta datang bersama keluarga
ke Lampung. “Orang kan biasanya lamaran, ijab, baru resepsi. Ini saya
lamaran langsung ijab kabul, hari itu juga,” ceritanya sambil tertawa.
Selain
“merayu” keluarga Indadari, Caisar juga berhasil merebut hati Nokia
Nebula Putri Kawakibi, putri dari pernikahan sebelumnya. Ia sering
mengantar jemput bocah 6 tahun itu ke sekolah. Setiap ada waktu
senggang, ia juga mengajak Indadari bersama putrinya berlibur atau
menonton bioskop.
Sampai-sampai, Nokia sendiri yang meminta
Caisar menjadi ayah barunya. “Itu nilai plusnya juga. Sesibuk-sibuknya
masih ada waktu untuk keluarga. Itu yang mahal, yang susah dicari dari
seorang laki-laki sibuk,” ucap Indadari sambil tersenyum.
Selalu mesra
Kini,
ada yang selalu menemani Caisar ke manapun pergi. Ada yang
menyiapkannya makanan, pakaian, dan melayani dengan kasih sayang. Saat
syuting Islam Itu Indah Kamis lalu, Caisar diminta menjadi bintang tamu bersama istrinya. “Ya selama bisa menemani, ikut saja,” kata Indadari.
Setelah
menyiapkan perbekalan, termasuk sekotak sarapan dan sepasang sepatu
untuk Caisar, Indadari masuk mobil Ertiga hitam bersama suaminya. Di
perjalanan, Caisar tak henti-henti batuk dan bersin. Ia juga
berkali-kali menggosok hidung dengan keras.
Indadari sendiri
selalu sibuk dengan telepon selulernya. Jika tidak menerima telepon, ia
yang melakukan panggilan. Ke keluarganya di Lampung, maupun pihak
katering. Maklum, dalam sebulan ia harus menyiapkan resepsi
pernikahannya di Jakarta.
“Rencananya 17 Mei, di dekat rumah. Cuma nyebar 500 undangan, nggak banyak. Tempatnya juga nggak luas,”
ia menuturkan di sela-sela menunggu sambungan telepon. Setelah
tersambung, dengan semangat ia menyampaikan konsep dan bernegosiasi soal
harga.
Di kursinya, Caisar tampak tenang. Ia mengaku
memang tak ikut campur soal urusan pernikahan. Semua diserahkan pada
sang istri. Sebagai sosok yang juga sibuk, ia hanya terima jadi.
Setelah
Indadari tak lagi sibuk menelepon, Caisar mengajak istrinya makan bekal
yang dibawa dari rumah. Nasi, ayam goreng, dan sayur kangkung. Sesendok
demi sesendok, Indadari menyuapinya.
“Minta masakin sih enggak, tapi minta disuapin iya,”
canda wanita berhijab itu. Acara suap-menyuap itu pun diselingi canda
romantis. Caisar menggoda istrinya, sampai Indadari tertawa
terbahak-bahak. Sebagai pengantin yang baru seminggu menikah, wajar
keduanya terlihat sangat mesra.
Kemesraan itu juga terlihat di
lokasi syuting. Caisar seakan tak bisa jauh dari istrinya. Berpindah
dari satu set ke set lain, Indadari selalu digandeng. Jika bukan
tangannya digenggam, pinggangnya dipeluk. Sesekali, mereka bercanda
mesra.
“Kan sudah halal. Suami istri itu harus tampil mesra ya, justru heran kalau ada yang cuek-cuekan,”
tutur Indadari. Ia tampak begitu bangga mendampingi Caisar. Sebab, ia
tahu betul perjuangan suaminya dari nol. Indadari sangat menghargai
kerja keras Caisar.
“Pasti lebih menghargai nikmat yang diraih.
Bertanggung jawab, pekerja keras. Kasarnya, saya nggak akan mati
kelaparan lah,” katanya lagi, sambil tersenyum.
Usai syuting Islam Itu Indah,
Caisar dan istrinya langsung berpindah ke studio di Mampang untuk
program berikutnya. Mereka sedikit terburu-buru karena waktu siaran
langsung tinggal hitungan menit. Meski begitu, kemesraan tetap tak
lepas.
Di mobil, Caisar memilih tidur. Kepalanya ia tempatkan di
pangkuan sang istri. Sebelum akhirnya ia mendengkur kelelahan, keduanya
masih bercanda dengan romantis. Maklum, mereka tak sempat berbulan madu.
Rencananya, itu baru dilakukan Mei mendatang, usai resepsi pernikahan.
Perjalanan
hari itu pun berakhir setelah Caisar sampai di studio. Ia dan Indadari
berpisah. Caisar langsung syuting, sedang Indadari dijemput sopir untuk
pulang ke Cibubur. “Kasihan anak sendirian. Nanti malam juga ada
arisan,” ujarnya sebelum pamit.
Caisar sendiri, beberapa menit
kemudian sudah tampak di layar kaca. Busananya berganti menjadi seragam
sekuriti dengan dasi kupu-kupu besar warna merah. Ia siap menghibur
dengan joget dan celetukan konyol. Wajahnya yang tadi kuyu, disetel
menjadi sumringah demi dedikasi pada pekerjaan. Dan, “Goyang Caesar” pun
membuat penonton tertawa lepas.
Sumber//



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !