PERMAINAN ANAK
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Permainan anak-anak tempo doeloe, yang disebut kaulinan barudak
urang lembur, boleh dikata tidak dikenal lagi oleh anak-anak Bandung
zaman sekarang. Anak-anak sekarang hamper semuanya sudah terbius oleh
permainan elektronik, yang pada umumnya dimainkan di dalam rumah.
Kemajuan teknologi permainan anak-anak dan komputer serta berkurangnya
lahan terbuka telah mengubah pola bermain anak-anak di Kota Bandung.
Permainan anak-anak tempo doeloe yang kaya akan unsur imajinasi, kerjasama, dan pertemanan berpotensi untuk membentuk kepedulian sosial, kepekaan sosial, dan kecerdasan bagi sang anak menjelang usia dewasa |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Jajangkungan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Permainan Jajangkungan dimainkan dengan sepasang
tongkat atau galah, yang terbuat dari kayu atau bamboo. Tumpuan untuk
pijakan kaki dibuat pada ketinggian 30 – 60 cm dari ujung bawah
tongkat. Beberapa pemain dapat serentak memainkannya
bersama-sama.Permainan ini biasa digabungkan dengan jenis permainan
lain, seperti adu lari atau sepak bola.
Ada kalanya, penilaian hanya pada adu ketahanan berjalan di atas
jajangkungan sambil saling menendang kaki jajangkungan lawan bermain.
Pemain yang tejatuh dinyatakan kalah.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Permainan ini dilakukan oleh 3 – 4 orang anak, baik anak perempuan
maupun lelaki. Setiap pemain berusaha saling mendahului mencubit
(nyiwit) punggung tangan diurutan teratas sambil melantunkan kawih :
Paciwit-ciwit lutung…,
Si Lutung pindah ka tungtung, Paciwit-ciwit Lutung…, Si Lutung pindah ka tungtung. Pada umumnya, tidak ada pihak yang dinyatakan menang atau kalah. Jadi, jenis permainan ini semata-mata dilakukan hanya untuk bersenang-senang dan mengisi waktu pada malam terang bulan. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Gatrik
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Permainan dimainkan oleh dua orang atau dua regu yang
beranggotakan beberapa orang. Alat yang dimainkan adalah tongkat pemukul
terbuat dari kayu dan potongan kayu sepanjang seperempat tongkat
pemukul, yang biasa disebut "anak gatrik”. Anak gatrik diletakan
dilubang miring dan sempit dengan setengah panjangnya menyembul di
permukaan tanah. Ujung anak gatrik dipukul dengan tongkat pemukul. Anak
gatrik kembali dipukul sejauh-jauhnya ketika terlontar ke udara. Bila
anak gatrik tertangkap lawan, permainan dinyatakan kalah. Bila tidak
tertangkap, jarang antara lubang dan tempat jatuhnya dihitung untuk
menentukan pemenangnya.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Perepet Jengkol
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Permainan ini dilakukan oleh 3 – 4 anak perempuan atau lelaki.
Pemain berdiri saling membelakangi, berpegangan tangan, dan salah satu
kaki saling berkaitan di arah belakang. Dengan berdiri dengan sebelah
kaki, pemain harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh, sambil
bergerak berputar kea rah kiri atau kanan menurut aba-aba si dalang ,
yang bertepuk tangan sambil melantunkan kawih : Perepet jengkol
jajahean.., Kadempet Kohkol jejereten..
Tidak ada pihak yang dinyatakan menang atau kalah dalam permainan ini. Jadi, jenis permainan ini hanya dimainkan untuk bersenang-senang pada saat terang bulan. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Oray-orayan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Permainan ini dimainkan beberapa anak perempuan maupun lelaki di
lapangan terbuka. Para pemain saling memegang ujung baju bagian belakang
teman di depannya untuk membentuk barisan panjang. Pemain terdepan
berusaha menangkap pemain yang paling belakang yang akan menghindar,
sehingga barisan bergerak meliuk-liuk seperti ular, tetapi barisan itu
tidak boleh terputus. Sambil bermain, pemain melantunkan kawih :
Orany-orayan luar leor ka sawah.., Tong ka sawah parena keur sedeng beukah Orang-orayan luar leor ka kebon …, Tong ka kebon aya barudak keur ngangon. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Sondah
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Permainan ini pada umumnya dimainkan oleh anak perempuan. Pola
gambar berbentuk kotak-kotak berpalang dibuat di tanah. Setiap pemain
memegang sepotong pecahan genteng atau batu pipih, yang kemudian
dilemparkan ke dalam kotak permainan. Pemain melompat-lompat dari kotak
ke kotak berikutnya.
Kotak yang berisi pecahan genting tidak boleh diinjak. Pemain dinyatakan kalah jika menginjak garis kotak atau bagian luar kotak. Pemain pertama disebut mi-hiji, kedua mi-dua, ketiga mi-tilu, dan seterusnya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Sumber// | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Penelitian mengenai asal muasal Sindrom Pernapasan Timur Tengah atau Middle East Respiratory Syndrome (MERS) memang masih diteliti lebih lanjut. Tapi sejumlah penelitian dan dugaan terus dikaitkan dengan unta.
Seperti diungkapkan Kepala Badan Litbangkes Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia yang juga salah satu anggota Emergency Committee WHO untuk MERS-CoV, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama bahwa sejauh ini dugaan kuat MERS disebarkan melalui unta.
"Jamaah umrah atau calon haji jangan kontak langsung dengan unta, jangan kunjungi peternakan unta dan jangan konsumsi susu Unta mentah," katanya pada laporan tertulis yang diterima Liputan6.com, Senin (9/6/2014).
Tentang unta dan susu unta ini, Tjandra menyampaikan 4 hal, yaitu:
1. Di tahun 2014 sudah ada 5 artikel penelitian di jurnal internasional tentang unta ini
2. Artikel terakhir di New England Journal of Medicine oleh Jonathan Bell dan rekannya di Nottingham University menemukan, pasien MERS yang ternyata memelihara sembilan ekor unta. Pria berusia 44 tahun itu disebutkan sempat memberikan obat berupa tetes hidung pada unta-unta peliharaannya itu. Genom pasien dan genom di untanya adalah "match". (Baca: Pemerintah Arab mulai percaya MERS dari unta setelah ditemukan pasien MERS memelihara unta)
3. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mengkaji kepastian sumber penularan dari unta ini, sedang dicoba dilakukan semacam meta analisis dan sebagainya.
4. Secara umum sudah dianjurkan untuk tidak kontak dengan unta. Kasus terdekat dari negara kita, yaitu kasus di Malaysia, memang tidak dianjurkan mengonsumsi susu unta mentah sebelum pulang.
Tjandra menambahkan, sejauh ini Balitbangkes sedang melakukan kemungkinan pemeriksaan antibodi. "Kami sudah menghubungi WHO dan NIH/CDC USA dan memang belum ada prosedur yang baku. Untuk pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dua kali untuk diagnosis, sampai sekarang masih kami laksanakan dengan ketat sesuai prosedur internasional," katanya. - See more at: http://health.liputan6.com/read/2060405/4-dugaan-kuat-mers-ditularkan-unta#sthash.CB3ap8EV.dpuf
Seperti diungkapkan Kepala Badan Litbangkes Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia yang juga salah satu anggota Emergency Committee WHO untuk MERS-CoV, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama bahwa sejauh ini dugaan kuat MERS disebarkan melalui unta.
"Jamaah umrah atau calon haji jangan kontak langsung dengan unta, jangan kunjungi peternakan unta dan jangan konsumsi susu Unta mentah," katanya pada laporan tertulis yang diterima Liputan6.com, Senin (9/6/2014).
Tentang unta dan susu unta ini, Tjandra menyampaikan 4 hal, yaitu:
1. Di tahun 2014 sudah ada 5 artikel penelitian di jurnal internasional tentang unta ini
2. Artikel terakhir di New England Journal of Medicine oleh Jonathan Bell dan rekannya di Nottingham University menemukan, pasien MERS yang ternyata memelihara sembilan ekor unta. Pria berusia 44 tahun itu disebutkan sempat memberikan obat berupa tetes hidung pada unta-unta peliharaannya itu. Genom pasien dan genom di untanya adalah "match". (Baca: Pemerintah Arab mulai percaya MERS dari unta setelah ditemukan pasien MERS memelihara unta)
3. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mengkaji kepastian sumber penularan dari unta ini, sedang dicoba dilakukan semacam meta analisis dan sebagainya.
4. Secara umum sudah dianjurkan untuk tidak kontak dengan unta. Kasus terdekat dari negara kita, yaitu kasus di Malaysia, memang tidak dianjurkan mengonsumsi susu unta mentah sebelum pulang.
Tjandra menambahkan, sejauh ini Balitbangkes sedang melakukan kemungkinan pemeriksaan antibodi. "Kami sudah menghubungi WHO dan NIH/CDC USA dan memang belum ada prosedur yang baku. Untuk pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dua kali untuk diagnosis, sampai sekarang masih kami laksanakan dengan ketat sesuai prosedur internasional," katanya. - See more at: http://health.liputan6.com/read/2060405/4-dugaan-kuat-mers-ditularkan-unta#sthash.CB3ap8EV.dpuf
Penelitian mengenai asal muasal Sindrom Pernapasan Timur Tengah atau Middle East Respiratory Syndrome (MERS) memang masih diteliti lebih lanjut. Tapi sejumlah penelitian dan dugaan terus dikaitkan dengan unta.
Seperti diungkapkan Kepala Badan Litbangkes Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia yang juga salah satu anggota Emergency Committee WHO untuk MERS-CoV, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama bahwa sejauh ini dugaan kuat MERS disebarkan melalui unta.
"Jamaah umrah atau calon haji jangan kontak langsung dengan unta, jangan kunjungi peternakan unta dan jangan konsumsi susu Unta mentah," katanya pada laporan tertulis yang diterima Liputan6.com, Senin (9/6/2014).
Tentang unta dan susu unta ini, Tjandra menyampaikan 4 hal, yaitu:
1. Di tahun 2014 sudah ada 5 artikel penelitian di jurnal internasional tentang unta ini
2. Artikel terakhir di New England Journal of Medicine oleh Jonathan Bell dan rekannya di Nottingham University menemukan, pasien MERS yang ternyata memelihara sembilan ekor unta. Pria berusia 44 tahun itu disebutkan sempat memberikan obat berupa tetes hidung pada unta-unta peliharaannya itu. Genom pasien dan genom di untanya adalah "match". (Baca: Pemerintah Arab mulai percaya MERS dari unta setelah ditemukan pasien MERS memelihara unta)
3. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mengkaji kepastian sumber penularan dari unta ini, sedang dicoba dilakukan semacam meta analisis dan sebagainya.
4. Secara umum sudah dianjurkan untuk tidak kontak dengan unta. Kasus terdekat dari negara kita, yaitu kasus di Malaysia, memang tidak dianjurkan mengonsumsi susu unta mentah sebelum pulang.
Tjandra menambahkan, sejauh ini Balitbangkes sedang melakukan kemungkinan pemeriksaan antibodi. "Kami sudah menghubungi WHO dan NIH/CDC USA dan memang belum ada prosedur yang baku. Untuk pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dua kali untuk diagnosis, sampai sekarang masih kami laksanakan dengan ketat sesuai prosedur internasional," katanya. - See more at: http://health.liputan6.com/read/2060405/4-dugaan-kuat-mers-ditularkan-unta#sthash.CB3ap8EV.dpuf
Seperti diungkapkan Kepala Badan Litbangkes Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia yang juga salah satu anggota Emergency Committee WHO untuk MERS-CoV, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama bahwa sejauh ini dugaan kuat MERS disebarkan melalui unta.
"Jamaah umrah atau calon haji jangan kontak langsung dengan unta, jangan kunjungi peternakan unta dan jangan konsumsi susu Unta mentah," katanya pada laporan tertulis yang diterima Liputan6.com, Senin (9/6/2014).
Tentang unta dan susu unta ini, Tjandra menyampaikan 4 hal, yaitu:
1. Di tahun 2014 sudah ada 5 artikel penelitian di jurnal internasional tentang unta ini
2. Artikel terakhir di New England Journal of Medicine oleh Jonathan Bell dan rekannya di Nottingham University menemukan, pasien MERS yang ternyata memelihara sembilan ekor unta. Pria berusia 44 tahun itu disebutkan sempat memberikan obat berupa tetes hidung pada unta-unta peliharaannya itu. Genom pasien dan genom di untanya adalah "match". (Baca: Pemerintah Arab mulai percaya MERS dari unta setelah ditemukan pasien MERS memelihara unta)
3. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mengkaji kepastian sumber penularan dari unta ini, sedang dicoba dilakukan semacam meta analisis dan sebagainya.
4. Secara umum sudah dianjurkan untuk tidak kontak dengan unta. Kasus terdekat dari negara kita, yaitu kasus di Malaysia, memang tidak dianjurkan mengonsumsi susu unta mentah sebelum pulang.
Tjandra menambahkan, sejauh ini Balitbangkes sedang melakukan kemungkinan pemeriksaan antibodi. "Kami sudah menghubungi WHO dan NIH/CDC USA dan memang belum ada prosedur yang baku. Untuk pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dua kali untuk diagnosis, sampai sekarang masih kami laksanakan dengan ketat sesuai prosedur internasional," katanya. - See more at: http://health.liputan6.com/read/2060405/4-dugaan-kuat-mers-ditularkan-unta#sthash.CB3ap8EV.dpuf
Penelitian mengenai asal muasal Sindrom Pernapasan Timur Tengah atau Middle East Respiratory Syndrome (MERS) memang masih diteliti lebih lanjut. Tapi sejumlah penelitian dan dugaan terus dikaitkan dengan unta.
Seperti diungkapkan Kepala Badan Litbangkes Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia yang juga salah satu anggota Emergency Committee WHO untuk MERS-CoV, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama bahwa sejauh ini dugaan kuat MERS disebarkan melalui unta.
"Jamaah umrah atau calon haji jangan kontak langsung dengan unta, jangan kunjungi peternakan unta dan jangan konsumsi susu Unta mentah," katanya pada laporan tertulis yang diterima Liputan6.com, Senin (9/6/2014).
Tentang unta dan susu unta ini, Tjandra menyampaikan 4 hal, yaitu:
1. Di tahun 2014 sudah ada 5 artikel penelitian di jurnal internasional tentang unta ini
2. Artikel terakhir di New England Journal of Medicine oleh Jonathan Bell dan rekannya di Nottingham University menemukan, pasien MERS yang ternyata memelihara sembilan ekor unta. Pria berusia 44 tahun itu disebutkan sempat memberikan obat berupa tetes hidung pada unta-unta peliharaannya itu. Genom pasien dan genom di untanya adalah "match". (Baca: Pemerintah Arab mulai percaya MERS dari unta setelah ditemukan pasien MERS memelihara unta)
3. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mengkaji kepastian sumber penularan dari unta ini, sedang dicoba dilakukan semacam meta analisis dan sebagainya.
4. Secara umum sudah dianjurkan untuk tidak kontak dengan unta. Kasus terdekat dari negara kita, yaitu kasus di Malaysia, memang tidak dianjurkan mengonsumsi susu unta mentah sebelum pulang.
Tjandra menambahkan, sejauh ini Balitbangkes sedang melakukan kemungkinan pemeriksaan antibodi. "Kami sudah menghubungi WHO dan NIH/CDC USA dan memang belum ada prosedur yang baku. Untuk pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dua kali untuk diagnosis, sampai sekarang masih kami laksanakan dengan ketat sesuai prosedur internasional," katanya. - See more at: http://health.liputan6.com/read/2060405/4-dugaan-kuat-mers-ditularkan-unta#sthash.CB3ap8EV.dpuf
Seperti diungkapkan Kepala Badan Litbangkes Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia yang juga salah satu anggota Emergency Committee WHO untuk MERS-CoV, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama bahwa sejauh ini dugaan kuat MERS disebarkan melalui unta.
"Jamaah umrah atau calon haji jangan kontak langsung dengan unta, jangan kunjungi peternakan unta dan jangan konsumsi susu Unta mentah," katanya pada laporan tertulis yang diterima Liputan6.com, Senin (9/6/2014).
Tentang unta dan susu unta ini, Tjandra menyampaikan 4 hal, yaitu:
1. Di tahun 2014 sudah ada 5 artikel penelitian di jurnal internasional tentang unta ini
2. Artikel terakhir di New England Journal of Medicine oleh Jonathan Bell dan rekannya di Nottingham University menemukan, pasien MERS yang ternyata memelihara sembilan ekor unta. Pria berusia 44 tahun itu disebutkan sempat memberikan obat berupa tetes hidung pada unta-unta peliharaannya itu. Genom pasien dan genom di untanya adalah "match". (Baca: Pemerintah Arab mulai percaya MERS dari unta setelah ditemukan pasien MERS memelihara unta)
3. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mengkaji kepastian sumber penularan dari unta ini, sedang dicoba dilakukan semacam meta analisis dan sebagainya.
4. Secara umum sudah dianjurkan untuk tidak kontak dengan unta. Kasus terdekat dari negara kita, yaitu kasus di Malaysia, memang tidak dianjurkan mengonsumsi susu unta mentah sebelum pulang.
Tjandra menambahkan, sejauh ini Balitbangkes sedang melakukan kemungkinan pemeriksaan antibodi. "Kami sudah menghubungi WHO dan NIH/CDC USA dan memang belum ada prosedur yang baku. Untuk pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dua kali untuk diagnosis, sampai sekarang masih kami laksanakan dengan ketat sesuai prosedur internasional," katanya. - See more at: http://health.liputan6.com/read/2060405/4-dugaan-kuat-mers-ditularkan-unta#sthash.CB3ap8EV.dpuf


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !