OLAHRAGA lari memang sudah dikenal memberi banyak
manfaat kesehatan pada pelakunya. Asalkan, jika olahraga lari tidak
dilakukan berlebihan
dr Hario Tilarso, spesialis kesehatan olahraga dari RS Premier Bintaro
menjelaskan, memaksa tubuh untuk meraup keuntungan dari berlari ialah
pandangan yang keliru.
"Kalau kita dari pagi ke malam sudah bekerja, terus ngotot
berolahraga lari biar sehat, itu malah bisa membahayakan tubuhnya.
Efeknya apa saja? Bisa pingsan karena kehabisan tenaga, bisa juga
serangan jantung akibat jantung 'kaget' mendadak diforsir," katanya di Jakarta, baru-baru ini.
Lebih lanjut, dr Hario mencontohkan bahwa atlet lari juga sudah terukur
untuk melakukan olahraga tersebut. Misalnya saja, dari segi frekuensi
latihan.
"Intinya semua olahraga, sekalipun atlet, ada 'dosis' latihannya
sendiri. Pembimbingnya masih sudah mengukur ketahanan tubuh si atlet,
bukan asal. Yang ada badan bisa jebol (jatuh sakit-red). Dan, ini juga
berlaku bagi mereka yang belum terbiasa berlari, tapi berlebihan saat
berlari," tegasnya.
Lantas apa patokan olahraga lari sudah berlebihan? Menurutnya, semua
orang punya batasan daya tahan tubuh sendiri. Sebagai gambaran, di
lengannya para atlet suka menempelkan pencatat denyut nadi. Mereka
sebelumnya sudah dikasih tahu pelatihnya tentang batasan kekuatan yang
bisa dilakukan.
“Anggaplah 140, ketika mereka berlari denyutnya sudah 140, berarti
intensitas larinya harus diturunkan. Kalau saat dicek masih 130, berarti
masih 'aman', dan masih boleh lanjut lari," tutupnya.
KUNCI penting saat berolahraga lari adalah mencukupi cairan yang dibutuhkan tubuh. Namun, berapa jumlah ideal yang harus dikonsumsi?
dr Hario Tilarso, spesialis kesehatan olahraga dari RS Premier Bintaro
menegaskan, tidak ada angka khusus untuk jumlah kebutuhan air minum saat
berlari. Kebutuhan air sebenarnya tergantung dari jarak lari yang
diambil dan keluarnya keringat.
"Bagi orang yang rajin olahraga, kan pasti keringat yang keluar lebih banyak dibanding pemula karena faktor metabolisme. Nah, yang rajin lari ini minumnya harus lebih banyak," katanya di Jakarta, baru-baru ini.
Sementara itu, jarak juga bisa dijadikan patokan seberapa banyak air
yang harus dikonsumsi. Jika jarak yang ditempuh untuk berlari sangat
jauh, maka seseorang harus mengonsumsi air lebih.
" Kebutuhan orang berbeda-beda. Jika jarak larinya jauh, pelari harus meminum banyak air," simpulnya.
Sumber//



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !