ADA dua macam cobaan dari Allah SWT untuk manusia.
Kesatu disebut musibah. Menimpa orang-orang beriman, yang sedang
diuji nilai keimananannya dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta
benda, dan gagal panen. Ketika mendapat musibah itu, mereka mengucapkan
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun (Sesungguhnya kami milik Allah, dan
sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya)". Orang-orang tersebut yang
akan mendapat ampunan, rahmat, serta petunjuk Allah SWT (Q.S. Albaqarah:
155-157).
Kedua, disebut azab. Menimpa setiap orang, baik beriman atau kafir,
yang hidup bergelimang kemaksiatan. Selalu melanggar larangan Allah SWT
dan mengabaikan perintah-Nya. Azab selalu datang mendadak.
"Dan sesudah mereka melupakan semua peringatan, Kami membukakan
berbagai pintu kesenangan, sehingga mereka asyik bersuka ria, maka Kami
menimpakan siksaan amat mendadak...." (Q.S. Al Anam : 44).
Syekh Abdullah at Talidzi, dalam kitabnya Ashabul Halakiul Umam was
Sunatillahi fi Qowmul Mujrimin wal Munhafirin (1998) menjelaskan, Allah
SWT menurunkan azab kepada manusia dari tiga arah dan dalam tiga bentuk.
Pertama al adzabu min fawqi. Azab dari atas, seperti, hujan lebat, petir menggelegar, awan panas, dan kemarau panjang.
Kedua, al adzabu min tahti. Azab dari bawah, seperti gempa bumi, longsor, gunung meletus, dan tanah terbelah.
Ketiga, al adzabu yalbisakum syiya-an. Berupa pertengkaran antara
sesama manusia. Dipicu oleh perbedaan paham, saling klaim kebenaran,
saling tuding, curang-mencurangi, khianat-mengkhianati, terus-menerus
mempersoalkan kekalahan atau kemenangan, merasa paling jujur dan adil.
Menganggap orang lain zalim dan salah, dsb. Sehingga menimbulkan
huru-hara yang meresahkan khalayak.
Tak ada yang mampu mengatasi menjadi wasit atau hakim yang dapat
meredakan keadaan. Kalaupun ada, tetap saja tak berhasil. Sebab yang
digunakan menghakimi dan menghukum, masih hukum buatan mereka sendiri,
yang dapat dipermainkan, diatur-atur tergantung keinginan pribadi. Bukan
hukum yang adil dan bijaksana buatan Allah Ahkamul Hakimin, yang
mengandung sanksi berat di dunia dan akhirat.
Termasuk yang menjalankan hukum tersebut. Terdiri dari manusia biasa,
yang belum teruji keimanan, ketakwaan, dan ketaatannya kepada Allah SWT
dan Rasul-Nya. Maka wajar saja jika keputusan-keputusannya tetap
dicurigai mengandung unsur patgulipat, persekongkolan untuk memenangkan
satu pihak dan mengalahkan pihak lain.
Ketiga model azab tersebut sudah nyata di depan mata. Maka sudah
saatnya, umat Islam meningkatkan keimanan dan ketakwaan, agar selamat
dari azab-azab itu, serta mendapat perlindungan agar selamat di dunia
dan akhirat.
Sumber//



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !