Presiden terpilih, Joko Widodo, belum bisa keluar dari bayang-bayang
Megawati Soekarnoputri. Kesan petugas, bahkan “boneka” partai masih
melekat pada diri mantan Wali Kota Solo itu.
Padahal, setelah
terpilih sebagai Presiden Jokowi diharapkan mampu bersikap dan mengambil
keputusan sendiri tanpa menunggu perintah partai yang mengusungnya ke
jabatan tertinggi.
“Presiden punya hak prerogatif. Jangan sampai
ada kesan Pak Jokowi bergerak tidak independen, disetir. Ini harus
diyakinkan ke publik,” kata pengamat politik LIPI, Siti Zuhro.
Kendati,
kata Siti, tidak berarti Jokowi memutus hubungan dengan Megawati dan
partai pengusung. Sebatas berkonsultasi untuk mengambil kebijakan
strategis tetap dibenarkan, selama partai tidak ikut cawe-cawe dalam kebijakan pemerintah nantinya.
“Tapi
kalau sejak awal sudah mendominasi, ini yang jadi pertanyaan publik,”
ujarnya. Karena itu, Siti menyarankan agar Jokowi melembagakan Megawati
dan tokoh-tokoh yang dianggapnya sebagai penasihat ke dalam wadah resmi
seperti Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
“Jokowi harus
piawai meletakan diri. Jokowi harus punya posisi. Punya keleluasanya
dalam memutuskan kebijakan termasuk memilih menteri-menterinya,” sambung
Siti. Bila tetap berada di bawah bayang-bayang Mega, menurut Siti
Jokowi akan menjadi bahan tertawaan.
Sumber//



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !