Dokter Kent Brantly bangun pagi pada 23 Juli lalu dalam keadaan sedikit pusing dan demam di cuaca yang lembab di Monrovia, Liberia. Merasa tidak enak badan, lalu dia mengukur temperatur tubuhnya. Hasilnya, sedikit di atas rata-rata suhu tubuh normal.
Dia mulai cemas, sebab saat ini, penyakit mematikan Ebola, tengah
mewabah di sana. Terlebih, Brantly turut menjabat sebagai Direktur medis
untuk kelompok Pusat Pengelolaan Konsolidasi Kasus Ebola. Maka, sudah
pasti, dia berada di garda terdepan untuk merawat pasien Ebola.
Maka, kecemasan kian membuncah di pikiran Brantly. Pria berusia 33
tahun itu lalu melakukan tes darah untuk mengecek apakah dia terinfeksi
Ebola. Hasilnya mencengangkan, virus Ebola bersarang di darah Brantly.
"Saya merasa saat itu saya akan segera mati. Saya katakan kepada
perawat, saya sakit dan tidak tahu hingga kapan bisa bertahan," ungkap
Brantly kepada stasiun berita NBC News ketika mengenang awal mula dia terjangkit virus itu.
Wajar, jika Brantly merasa takut mati. Sebab, dari data Badan
Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 90 persen penderita Ebola dilaporkan
tewas. Selain itu, belum ditemukan obat atau vaksin untuk mencegah
penyebaran penyakit tersebut.
Dia lalu mengisolasi dirinya, agar penyakit itu tidak menular. Dari
informasi yang dia peroleh, virus Ebola membutuhkan beberapa hari untuk
berinkubasi.
Maka jadilah, selama sembilan hari, dia tergeletak lemah di tempat tidur. Kondisinya kian memburuk.
Brantly berada di Liberia sejak Oktober 2013, karena dia tergabung
dalam organisasi amal, Samaritan Purse. Alasannya pergi ke Liberia
sederhana, dia ingin membantu warga di sana. Bahkan, Brantly menyebut,
itu panggilan Tuhan.
Semula, saat tiba di Liberia, Ebola belum mewabah seperti sekarang. Oleh sebab itu, dia hanya mengobati penyakit umum.
Namun, begitu Ebola mewabah, klinik tempat dia bekerja kewalahan.
Begitu banyak pasien yang antri, sementara, jumlah fasilitas tidak
memadai.
Ketakutan kian memenuhi pikirannya, sebab ketika terjangkit Ebola,
Brantly tidak bisa mengendalikan fungsi tubuhnya. Kengerian akan
mengalami muntah darah dan pendarahan internal, seolah di depan mata.
Saat itu, Brantly tidak sendiri. Dia berjuang menghadapi Ebola,
bersama seorang pekerja kemanusiaan lainnya, Nancy Writebol. Stasiun
berita CNN pada akhir Agustus kemarin melaporkan, Writebol juga terinfeksi ketika tengah membantu warga Liberia menghadapi Ebola.
Menurut pernyataan tertulis Samaritan Purse, Writebol bekerja untuk organisasi amal, Serving in Mission (SIM).
Pemerintah Amerika Serikat memutuskan langsung memboyong keduanya
dari Liberia ke Georgia. Brantly diboyong kali pertama pada tanggal 2
Agustus, sedangkan Writebol dipulangkan selang satu pekan kemudian.
Tidak mau kecolongan, Brantly dan Writebol diboyong dengan
menggunakan fasilitas khusus. Pesawat yang membawa mereka dilengkapi
dengan sebuah unit isolasi yang hanya dapat mengangkut satu pasien.
Keduanya tercatat menjadi pasien Ebola pertama dan kedua yang diboyong
dari Liberia ke AS.
Tiba di Rumah Sakit Universitas Emory Atlanta, Amerika Serikat,
Brantly yang sudah mengenakan pakaian khusus berwarna putih, berjalan
dari mobil ambulans menuju ke ruang isolasi RS. Menurut perwakilan
Samaritan Purse, istri dan keluarga Brantly terharu dan menangis melihat
suaminya tiba dengan selamat.
"Saya bersyukur kepada Tuhan atas keselamatan dan memberinya kekuatan untuk berjalan menuju ke rumah sakit," ungkap Amber kepada CNN.
Namun, Amber hanya bisa mengunjungi suami melalui dinding kaca.
Menurut pengawas unit isolasi rumah sakit, dr. Bruce Ribner, selama
dirawat, mereka ditempatkan di ruang isolasi.
Kendati tidak ada laporan resmi mengenai obat yang digunakan, tetapi, CNN
menyebut, sebelum diterbangkan ke AS, Brantly dan Writebol telah
diberikan obat percobaan ZMapp. Keduanya menyadari, obat ini belum
pernah diujicobakan kepada manusia, kendati sukses dites ke monyet.
Brantly baru mengkonsumsi ZMapp setelah sembilan hari kesakitan.
Setelah diberikan ZMapp melalui infus, satu jam kemudian, kondisinya
secara dramatis membaik. Keesokan paginya, dia mampu berjalan dan mandi
sendiri sebelum diterbangkan dengan pesawat jet khusus menuju ke AS.
Setelah 19 hari dirawat di Atlanta, Brantly dan Writebol secara mengejutkan bisa sembuh dan meninggalkan rumah sakit.
Keajaiban Doa
Dalam sebuah wawancara khusus dengan stasiun berita NBC News
awal September ini, Brantly mengatakan bukan hanya obat ZMapp yang
menyebabkan kesembuhannya. Bagi dokter yang memiliki keyakinan kuat
terhadap agama, justru menyebut kekuatan doa lah yang menyebabkan dia
dapat bertahan hidup.
"Orang-orang di dalam ruangan itu selain merawat saya, mereka juga
mulai mendoakan saya. Yang tidak saya ketahui saat itu, orang-orang di
luar rumah kami pun ternyata turut berdoa," ujar Brantly.
Bahkan, lanjut Brantly, ada ribuan orang, termasuk sesama rekan tim
kesehatannya di Liberia yang memohon kepada Tuhan agar nyawanya
diselamatkan. Kendati begitu, bukan berarti dia mengatakan ZMapp tidak
efektif.
Tetapi, dia menilai tidak semua pasien yang mengkonsumsi ZMapp
selamat. Sebagai contoh, kata Brantly, seorang pendeta asal Spanyol,
Miguel Pajares dan dokter asal Liberia, Abraham Borbor, tetap
meninggal.
"Namun, saya tidak mengatakan ZMapp sama sekali tidak bermanfaat.
Saya kira Tuhan menggunakan manusia, obat, peristiwa dan lingkungan
untuk menciptakan keajaibannya," kata Brantly.
Pasien Ebola lainnya yang turut diwawancarai, Writebol, setuju dengan pernyataan Brantly.
dr. Ribner yang merawat keduanya, membenarkan telah memberi obat
percobaan ZMapp. Namun, dia tidak mengetahui dengan pasti apakah obat
itu yang membuat kondisi Brantly dan Writebol pulih.
"Jujur, kami tidak tahu apakah itu yang membantu mereka, apakah
obat tersebut tidak membuat perbedaan atau apakah secara teoritis,
justru membuat pemulihan mereka tertunda," ungkap Ribner dan dikutip CBS News.
Obat ZMapp diberikan lebih dulu kepada Writebol, karena dia berusia
lebih tua. Botol ZMapp yang dikirim dari AS dalam keadaan suhu beku
lalu dicairkan. Namun, harus diperhatikan tidak boleh ada suhu panas
tambahan yang ikut terbawa.
Butuh waktu antara delapan hingga sepuluh jam agar obat itu
mencair. Ketika dokter tengah berupaya memberikan ZMapp kepada Writebol,
kondisi Brantly tiba-tiba menurun drastis. Nafasnya sesak.
Menurut sumber pertama yang melihat situasi itu, Brantly berpikir
dia akan mati. Menyadari botol ZMapp dosis untuknya masih beku, dia lalu
meminta sebagian dosis milik Writebol. Kondisi Brantly berangsur-angsur
membaik satu jam kemudian.
Sementara kondisi Writebol mulai menunjukkan perkembangan di saat ZMapp dosis kedua diberikan.
Dokter di RS Emory, kemudian menyimpulkan pasien Ebola harus
secepatnya diberi perawatan garam lebih cepat. Dengan begitu, tingkat
kemungkinan pasien untuk bertahan hidup bisa mencapai 75 persen.
Kesimpulan itu diambil usai berminggu-minggu merawat Brantly dan
Writebol dengan menggunakan fasilitas terbaik. Pernyataan itu disetujui
organisasi Dokter Tanpa Batas (MSF).
Sementara, menurut spesialis penyakit menular di RS Emory, dr.
Colleen Kraft, menggantikan cairan tubuh dengan memberi garam saja tidak
cukup.
"Ya, Anda bisa memberikan pasien pengganti elektrolit. Tetapi, Anda
perlu menggantikannya dengan terus memonitor dan agresif," kata Kraft.
Anggota tim dokter Ebola di RS Emory, dr. Aneesh Mehta, menambahkan
penting untuk mengukur setiap elektrolit yang diberikan kepada
masing-masing individu dan menggantinya dengan cara yang tepat," kata
dia.
Sayangnya, menurut Brantly, fasilitas semewah itu tidak ditemukan di Liberia.
Sumbang Darah
Pulih dari Ebola, Brantly kemudian terbang ke Omaha, Nebraska untuk menyumbangkan darahnya bagi
salah seorang pekerja kemanusiaan, dr. Rick Sacra. NBC News melaporkan,
setelah berhasil pulih dari Ebola, Brantly, memiliki anti bodi yang
tidak dimiliki Sacra.
Sistem kekebalan tubuhnya yang membantu Sacra melawan virus Ebola.
Istri Sacra, Debbie, saat memberikan keterangan pers, mengaku terkejut
golongan darah Rick dengan Brantly sama.
"Hal ini sangat berarti bagi kami, karena dia bersedia
menyumbangkan darahnya begitu cepat setelah dinyatakan pulih," ungkap
Debbie.
Menggunakan serum dari mantan pasien yang berhasil selamat dari
satu penyakit, bukan hal baru. Pekan lalu, WHO, bahkan mendorong agar
menggunakan metode itu. Langkah tersebut, ujar perwakilan WHO, layak
untuk dicoba.
Tujuannya sederhana, mantan pasien penyakit itu telah memiliki
sistem antibodi terhadap virus di dalam darah mereka. Antibodi tadi
membentuk sistem daya tahan tubuh ke pasien lainnya.
Selain menggunakan darah dari Brantly, Sacra juga dirawat
menggunakan serum khusus. Namun, dokter tidak ingin menyebut jenis
serumnya. CNN melaporkan serum khusus yang diberikan pada Sacra bernama
TKM-Ebola.
Data dari WHO melansir jumlah pasien Ebola mencapai 5.300 orang
yang tersebar di empat negara Guinea, Sierra Leone, Liberia dan Nigeria.
Sebanyak 2.600 di antaranya tewas akibat Ebola.
Maka tidak mengherankan, jika kini di negara tertentu, ramai diburu darah mantan penderita penyakit Ebola,
khususnya di pasar gelap. Menurut Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan,
darah mantan penderita Ebola diburu karena mengandung antibodi yang
diduga dapat menyembuhkan penyakit mematikan itu.
Celakanya, pasien Ebola ini banyak yang tidak dan cenderung
menghalalkan berbagai cara. Padahal, dengan memberikan darah orang lain
kepada pasien Ebola, ujar Chan, bisa menyebabkan kematian. Malah,
mengundang penyakit lain seperti HIV, apabila darah itu tercemar.
Harian Washington Post melansir, WHO, akan bekerja sama
dengan pemerintah untuk membasmi pasar gelap. Chan menyebut akan
membangun sebuah sistem yang aman untuk mengumpulkan, menyimpan dan
menyuntikkan kembali darah.
Ciptakan Obat
Sejak ditemukan pada 1976 lalu, virus yang diyakini berasal dari
kelelawar ini belum ada obatnya. Maka, para ahli di berbagai negara
seolah berpacu dengan waktu untuk menciptakan obat penanggulangan Ebola.
Namun, ada risiko bahaya menggunakan obat baru yang belum diujikan
kepada manusia.
Kebanyakan, obat-obat yang ada baru diujicobakan pada hewan. Namun,
WHO terpaksa menyetujui menggunakan obat tersebut, daripada tingkat
kematian di negara-negara di kawasan Afrika Barat kian meningkat.
Obat pertama yang telah dikonsumsi adalah ZMapp. Obat ini merupakan
kombinasi dari tiga monoclonal antibodi yang mengikat protein dari
Virus Ebola. Obat yang dikembangkan oleh perusahaan Mapp
Biopharmaceutical Inc. di San Diego, AS, ini sebenarnya belum diujikan
kepada manusia untuk mengetahui keamanan dan efektivitasnya.
Obat ZMapp ini telah dikirimkan Biopharmaceutical Inc, ke beberapa
negara di kawasan Afrika Barat, termasuk Liberia. Sehingga, kini stok
obat tersebut sudah kosong. Satu-satunya cara menghentikan penyebaran
Ebola, yaitu dengan mengisolasi korban.
Negara lain pun siap mengisi kekosongan obat ZMapp dengan obat lainnya. Sebagai contoh, Jepang yang siap menyediakan obat anti-influenza bagi penderita Ebola. Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga, menyebut pemerintahnya menawarkan obat favipiravir.
Obat ini dikembangkan oleh anak perusahaan Fujifilm Holdings Corp,
Toyama Chemical Co. Menurut juru bicara perusahaan Fujifilm, Takao Aoki
perusahaannya saat ini tengah berkoordinasi dengan Badan Administrasi
Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) untuk menguji obat tersebut.
Aoki menyebut virus ebola dan influenza memiliki tipe serupa dan
respons yang sama dapat diterapkan secara teori kepada penyakit ebola.
Favipiravir dapat mencegah replikasi gen virus di dalam sel yang
terinfeksi untuk mencegah propagasi. Sementara, obat anti-replikasi
lainnya dirancang untuk menghambat pelepasan partikel virus baru untuk
mencegah penyebaran infeksi.
Sementara Kanada, berencana mendonasikan sekitar 1.000 dosis vaksin VSV-EBOV ke WHO. Vaksini ini telah dikembangkan di Laboratorium Mikrobiologi Nasional. CBS News melansir, vaksin itu baru dicoba pada hewan dan dinilai menjanjikan untuk menangkal penyebaran virus Ebola.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !