Setelah pelantikan presiden dan wakil
presiden, rakyat Indonesia menanti pengumuman menteri kabinet. Joko
Widodo-Jusuf Kalla diharapkan benar-benar mampu menghadirkan kabinet
yang bersih dan tidak transaksional sebagaimana mereka janjikan saat
kampanye.
Namun, pengumuman yang sedianya dilakukan Selasa 21 Oktober 2014
urung dilakukan. Sejak Selasa pagi kabar tempat pengumuman telah
menyebar. Berhembus kabar pengumuman dilakukan Selasa siang di Pelabuhan
Sunda Kelapa kemudian berganti di Tanjung Priok hingga pada Selasa
malamnya tersiar kabar batalnya pengumuman itu.
Informasi dari Istana Negara pada Selasa malam, mengonfirmasi bahwa
tidak ada agenda pengumuman menteri kabinet. Mereka hanya menyebutkan
bahwa Presiden Jokowi masih menyeleksi menteri-menterinya.
Seharian ini, Jokowi memang sibuk menerima tamu yang datang dan
pergi silih berganti. Mereka yang bertandang ke Istana Negara itu memang
yang selama ini disebut-sebut masuk bursa kabinet.
Sejak pagi, tampak Ketua Tim Transisi Jokowi-JK, Rini Soemarno yang
mondar-mandir menemui Jokowi dengan membawa kertas yang disebut-sebut
berisi struktur kabinet.
Rini sejak awal digadang-gadang menjadi menteri ekonomi dan
keuangan. Kemudian ada Deputi Tim Transisi Jokowi-JK, Andi Widjajanto,
yang juga disebut sebagai calon menteri sekretaris negara.
Para tamu yang datang kemudian antara lain mantan Menko
Perekonomian Chairul Tanjung, mantan Kepala BIN Hendropriyono, Politikus
PDIP Aria Bima, serta Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Belakangan,
beredar kabar Muhaimin memilih tidak menjadi menteri karena tetap akan
menjadi ketua umum partai.
Pemanggilan sejumlah tokoh yang masuk dalam bursa menteri itu
mengundang tanya karena sebelumnya Jokowi mengaku telah memanggil semua
calon menterinya di Istana pada Senin malam hingga Selasa dini hari.
Menurutnya, nama-nama itu sudah mendapat rekomendasi dari Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan (PPATK).
"Ini sudah masukan PPATK, KPK, masih kurang nggak?" kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa 21 Oktober 2014.
Dia mengaku sempat mengevaluasi ulang nama-nama menteri setelah
diberi catatan KPK dan PPATK. Jokowi-JK dikabarkan harus merombak nama
kabinet yang telah mereka susun jauh-jauh hari. Pasalnya, 43 nama
tersebut ada yang diberi catatan tidak baik oleh KPK.
Meski memberikan catatan-catatan khusus untuk menjadi pertimbangan
Jokowi dalam menentukan kabinetnya mendatang, KPK tak bisa menjamin
sepenuhnya, apabila ada nama-nama yang selama ini belum pernah
bersentuhan dengan KPK atau tidak diberi catatan oleh KPK, kemudian
mereka menjabat menteri dan mereka tidak akan korupsi.
"KPK juga tak pernah menjamin itu. Yang pasti Pak Jokowi memperoleh
informasi awal berkaitan dengan kandidat yang sudah ada rekam jejaknya
di KPK," kata pria yang baru dilantik sebagai Deputi Pencegahan KPK ini.
Harapan Publik
Publik menunggu bagaimana komposisi kabinet pemerintahan dari
Presiden Joko Widodo lima tahun mendatang. Agar memenuhi harapan,
pengamat politik Muhammad Qodari meminta Presiden Joko Widodo mengikuti
saran dari Komisi Pemberantasan Korupsi.
"100 persen, Jokowi sebaiknya mengikuti penilaian KPK," kata Qodari saat dihubungi VIVAnews, Senin malam 20 Oktober 2014.
Qodari mengatakan, 43 nama yang disodorkan Jokowi sudah dikembalikan lagi oleh KPK. Sejumlah nama diberi tanda merah dan kuning.
"Calon-calon bermasalah besar merah dan berpotensi bermasalah kuning. Tidak ditandai clear aman," ujarnya.
Qodari menuturkan, sebaiknya Jokowi mencoret mereka yang ditandai
merah. Bahkan yang kena tanda kuning pun sebaiknya dicoret juga. "Jangan
ambil risiko," jelasnya.
Indonesia Corruption Watch (ICW) menyarankan kepada Presiden
Indonesia yang baru saja dilantik, Joko Widodo, untuk menunda pengumuman
nama-nama yang akan masuk ke dalam kabinet pemerintahan mendatang
karena ada beberapa nama calon menteri yang diusulkan oleh Jokowi
berpotensi bermasalah.
"ICW menilai masih ada beberapa nama dari 43 figur calon menteri
atau pejabat setingkat menteri yang diusulkan Jokowi masuk kabinet
diduga bermasalah karena diragukan integritas maupun komitmen
antikorupsinya," kata Koordinator Badan Pekerja ICW Ade Irawan di
Jakarta, Senin 20 Oktober 2014.
Ade mengatakan, ICW menemukan setidaknya ada empat calon menteri
yang diragukan komitmen dalam pemberantasan korupsinya. Namun, dia
enggan menyebut nama-nama yang dia maksud.
"Figur calon menteri yang diragukan tersebut potensial menjadi
tersangka korupsi dan diberitakan memiliki rekening atau transaksi
keuangan yang mencurigakan," katanya.
Menurut Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Eva Kusuma
Sundari, meskipun KPK dan PPATK telah memberikan sejumlah catatan
terhadap nama-nama yang diajukan sebagai calon Menteri, hak untuk
memilih Menteri adalah hak pribadi Jokowi sebagai Presiden.
"Kalau (ditandai) kuning tapi kalau dinilai pak Jokowi penting, itu hak prerogatif beliau," ujar Eva.
Saat disinggung apakah dia siap apabila ditunjuk menjadi Menteri,
Eva mengatakan bahwa hal tersebut adalah penugasan. Namun menurut dia,
hal tersebut harus lewat Ketua Umum karena jalurnya adalah melalui
Partai Politik.
"Aku lihatnya penugasan bukan penawaran. Ya kita laksanakan, namanya tugas," ujar dia.
Ditunggu DPR
Wakil Ketua DPR Fadli Zon menjelaskan pembentukan formasi alat
kelengkapan dewan tidak harus menunggu Presiden Joko Widodo mengumumkan
susunan kabinetnya. DPR, menurutnya, adalah lembaga independen yang
tidak berkaitan dengan eksekutif.
"Kita memang memantau dan melihat nomenklatur dari kementerian,
tapi itu kan sudah diatur Undang-Undang Kementerian. Pasti formasi
kabinet tidak akan jauh seperti yang diatur undang-undang," katanya di
Gedung DPR, Jakarta, Selasa 21 Oktober 2014.
Jika nantinya ada nama kementerian yang berubah, Wakil Ketua Umum
Partai Gerakan Indonesia Raya itu menjamin masih bisa diakomodasi di 11
komisi yang ada di DPR sekarang.
"Berubah nama, tapi kan tidak berubah fungsi dan bidangnya. Tapi kalau bidang, sebagian besar tetap sama," ujarnya.
Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional Taufik Kurniawan
menegaskan bahwa matriks pembagian jatah pimpinan komisi versi Koalisi
Merah Putih yang selama ini beredar adalah tidak benar.
"Itu simulasi. Belum ada ketetapan apapun yang mengikat. Kalau
barangkali sudah tersebar informasi itu, itu sah-sah saja orang
mensimulasikan," katanya.
Lantas, kapan pengumuman menteri kabinet akan dilakukan?
Wakil Presiden Jusuf Kalla masih memproses nama-nama kandidat
menteri yang akan duduk di kabinet pemerintahan Jokowi-JK mendatang.
Proses ini mengacu pada rekomendasi yang diberikan KPK dan PPATK.
"Masih dalam proses, bisa malam, bisa besok," kata JK di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Selasa 21 Oktober 2014.
JK mengakui adanya kode warna sebagai catatan para calon menteri
yang diterimanya dari KPK. JK menegaskan, dia dan Jokowi akan
mempertimbangkan kode warna itu terutama yang berwarna kuning muda.
"Kalau baca keterangan Pak Zulkarnain hari ini, tentu punya tingkat
masing-masing. Kuning muda itu banyak aduan masyarakat. Kalau semua
aduan dipertimbangkan waduh, semua orang ngadu," ujarnya.
Menurut dia, jangan sampai aduan-aduan masyarakat ini justru
menghalangi orang untuk menjadi menteri. Baginya, semua harus mengacu
pada proses hukum, di mana ada asas praduga tak bersalah.
Sementara itu, untuk nama-nama calon menteri yang diberi kode
berwarna merah oleh KPK dan PPATK, JK memastikan, nama-nama tersebut
tidak akan ditunjuk sebagai menteri. Meski begitu, JK enggan membeberkan
siapa saja nama calon menterinya yang diberi tanda merah. "Yang merah
saya tidak tahu," ujarnya.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !