Di era saat ini seseorang bisa berumur di atas 100 tahun sudah sangat
jarang terdengar. Apalagi, bila orang tersebut masih sanggup untuk
beraktivitas normal layaknya masih berusia muda.
Setidaknya itu yang dialami seorang nenek di Kabupaten Purwakarta,
Jawa Barat. Usianya kini diyakini sudah menginjak 140 tahun, dan menjadi
manusia tertua di Kabupaten tersebut. Meski usianya sudah renta, sang
nenek yang telah menikah sebanyak empat kali ini masih sehat dan tidak
pikun.
Kepala Desa Cisarua dan Camat Tegal Waru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, bersama jajarannya langsung mendatangi rumah nenek Anami atau Mak Indung
di Kampung Bungur Sarang RT 08, RW 04, Desa Cisarua. Kedatangan aparat
pemerintahan ini ingin memastikan usia nenek yang lahir pada zaman
penjajahan Belanda tersebut.
Nenek yang telah memiliki sembilan anak, 25 cucu, 47 buyut, 12 bao
dan satu udeg-udeg, atau sudah lima generasi keturunan ini tidak
memiliki data yang valid terkait usianya. Selain tidak memiliki akta
kelahiran, juga di desa setempat tidak tercatat asal usul kelahirannya.
Namun, di kampung dan desa tersebut, teman-teman se-usianya sudah
meninggal dunia. Bahkan dari sembilan anaknya pun, lima di antaranya
sudah meninggal dunia. Meninggalnya kelima anak nenek Anami ini antara
60 hingga 80 tahun.
Uniknya, meski usianya sudah renta, nenek Anami masih segar dan tidak
pikun. Bahkan, menurut keluarganya, dia tidak pernah sakit, termasuk
penyakit ringan seperti meriang. Ketika diajak ngobrol pun masih
nyambung.
Sementara kondisi nenek ini kulitnya sudah keriput tetapi bersih dan
terawat. Kendati giginya sudah ompong. Nenek Anami juga masih sanggup
berjalan, dan untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi, makan dan
ganti pakaian dilakukan sendiri. Sembahyang pun masih dilakukan normal
seperti yang berusia muda.
Guna memastikan usia nenek Anami, Camat Tegalwaru, Ahmad Korib, akan
terus menyelidikinya. Selain akan meminta keterangan dari para orangtua
dan tokoh masyarakat yang ada di desa tempat tinggalnya, juga akan
melakukan tes DNA.
Mengingat nenek Anami sendiri tidak ingat tahun berapa dia lahir,
yang diingatnya saat penjajahan Belanda. Sedangkan waktu muda, nenek
Anami bekerja sebagai tukang sadap getah karet dan membersihkan
perkebunan karet sekitar desanya. Nenek Anami juga mengaku sejak muda
hingga kini tidak pernah sakit.
Nenek Anami sendiri saat ini tinggal bersama salah seorang cucunya,
di rumah sederhana berdinding bilik dan kayu. Rumah tersebut di Kampung
Bungur Sarang, Desa Cisarua. Lokasinya berada di bawah Gunung Parang dan
Gunung Bongkok. Di sekitar kampung tersebut, kebun dan areal pesawahan
yang berbatasan dengan ujung danau Waduk Jatiluhur, bagian selatan.
Sedangkan mayoritas pencaharian warga kampung tersebut adalah bertani.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !