Tari kecodak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki saja, baik sebagai
penari maupun pemain waditra. Sedangkan, pertunjukannya biasanya
diadakan di halaman rumah atau tempat tertentu yang agak luas pada saat
ada upacara-upacara, seperti perkawinan, penyambutan tamu, panen raya
dan memperingati hari-hari besar nasional.
Peralatan dan Busana
Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari kecodak diantaranya
adalah: (1) sebuah petuk; (2) sebuah oncer; (3) empat buah teropong;
(4) tujuh pasang ceng-ceng (enam pasang berukuran kecil dan satu pasang
besar); dan (5) dua buah gendang besar yang terbuat dari kayu tap.
Sedangkan, busana yang dikenakan oleh penari adalah: (1) ikat kepala;
(2) baju berwarna hitam; (3) celana ¾; (4) leang yang terbuat dari
songket; dan (5) garus mungkur. Selain waditra dan busana, ada pula
peralatan lain yang digunakan sebagai pelengkap tarian, yaitu: bendera
atau panji-panji dan kuda-kudaan yang terbuat dari kulit yang digunakan
pada saat adegan lawakan.
Pertunjukan Tari Kecodak
Pertunjukan tari kecodak diawali dengan tari bendera atau tari
panji-panji yang dibawakan oleh dua orang penari. Dalam tarian ini
gerakan-gerakan yang dilakukan hanyalah berbaris berbanjar dan melangkah
maju-mundur. Sambil melakukan gerakan-gerakan tersebut, kedua kaki
diangkat, berputar mundur atau jalan di tempat.
Setelah itu, kedua penari tadi akan berjajar sambil menyandang gendang
besar di perut untuk menarikan tari gendang. Pada tarian ini
gerakan-gerakan yang dilakukan diantaranya adalah menari sambil menepak
gendang, membuat formasi saling berhadapan, berputar dengan satu kaki
diangkat, meloncat, dan saling mendesak seakan-akan sedang terjadi
pergulatan atau saling baku hantam. Dalam “perkelahian” tersebut, secara
bergantian mereka seakan-akan ada yang kalah dan ada yang menang. Pihak
yang kalah akan berada dalam posisi jongkok, sementara pihak yang
menang akan mengelilinginya sambil memukul gendang. Setelah melaksanakan
gilirannya, mereka akan kembali pada posisi semula dan kemudian
berjalan berjajar meninggalkan arena.
Selanjutnya, empat orang penari akan masuk untuk menarikan tari copeh
yang menggambarkan sepak terjang para prajurit pengawal ketika sedang
menyaksikan perkelahian yang digambarkan oleh para penari sebelumnya.
Pada gerakan tari ini para penari akan membentuk dua barisan sambil
memukul copeh atau ceng-ceng (sejenis simbal kecil). Setelah itu, mereka
akan membentuk formasi segi empat, saling berhadapan dan perlahan-lahan
membuat gerak melangkah maju. Sambil melakukan gerakan tersebut posisi
tangan kiri dilipat sebatas pinggang, tangan kanan agak maju sedikit,
kedua kaki merendah dan badan miring ke kiri. Kemudian, mereka akan
membentuk formasi sejajar ke belakang membentuk garis lurus dan berjalan
meninggalkan arena.
Setelah tari copeh, disusul dengan penampilan para pelawak yang berperan
sebagai seorang penuntun kuda, seorang majikan, dan seorang janda yang
sedang berjualan (seluruhnya dimainkan oleh laki-laki). Para pelawak ini
tidak hanya sekedar melawak, tetapi juga menampilkan gerakan-gerakan
lincah dan jenaka yang akan menggoyang senyum dan tawa penonton.
Penampilan para pelawak ini merupakan babak akhir dari serentetan
tahapan yang ada dalam setiap pertunjukan tari kecodak.
Nilai Budaya
Kecodak sebagai tarian khas orang Lombok Utara, jika dicermati, tidak
hanya mengandung nilai estetika (keindahan), sebagaimana yang tercermin
dalam gerakan-gerakan tubuh para penarinya. Akan tetapi, juga nilai
kerukunan yang tercermin dalam fungsi tari tersebut yang diantaranya
adalah sebagai ajang berkumpul antarwarga dalam suatu kampung atau desa
untuk merayakan suatu upacara adat dan saling bersilaturahim sehingga
menciptakan suatu kerukunan di dalam kampung atau desa tersebut.Sumber



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !