Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan mendukung kenaikan gaji presiden.
Alasannya, gaji presiden lebih rendah dibanding direktur utama atau
direksi Badan Usaha Milik Negara(BUMN).
“Seorang direksi BUMN
gajinya selangit ditambah bonus dan tantim, yang sampai ratusan juta,
sementara seorang Presiden tidak sampai ratusan juta. Bagaimanapun
Presiden adalah Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, kalau di swasta
adalah CEO- Presiden Direktur,” katanya di Gedung DPR, Jakarta, Senin.
Selain
itu, Wakil Ketua DPR bidang Koordinator Ekonomi-Keuangan itu
menambahkan, perlu dilakukan standarisasi atau diatur standarisasi gaji
pejabat dan Direksi BUMN karena ada hal yang aneh dan tidak wajar.
“Mana
mungkin Presiden Direktur (Presiden) gajinya lebih rendah dari pada
supervisornya atau lebih rendah dari manajernya. Makanya akan kita
tata,” kata politisi PAN itu.
Khusus mengenai gaji Direksi BUMN,
Taufik mengatakan, seringkali dilematis karena BUMN memiliki aset
yang hampir empat kali lebih besar dari APBN.
Ia menyebutkan, aset sebuah BUMN bisa mencapai Rp4.000 triliun, sedangkan APBN hanya sekitar Rp2.000 triliun.
Misalnya, take home pay para direksi BUMN mencapai Rp200 juta hingga Rp300 juta. Itu belum termasuk bonus dan tunjangan lain.
“Yang
lucu, ada BUMN rugi tapi gajinya direksinya selangit. Jadi jangan
hanya menyoroti anggaran kasur, toilet tetapi yang jumlahnya triliunan
lepas dari pengawasan masyarakat,” kata dia.
Taufik juga mempertanyakan BUMN yang masih meminta Penyertaan Modal Negara (PMN).
“Ada
BUMN minta PMN, kemudian disetujui bersama dengan DPR tapi gaji
direksi BUMN lebih tinggi dari Presidennya bahkan empat kali lipat,”
demikian Taufik.
Sumber



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !