Lawatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Amerika Serikat (AS)
ketika sebagaian rakyat Sumatera dan Kalimantan dilanda kabut asap,
dinilai tidak mempertimbangan aspek kemanusiaan. Pasalnya, penanganan
atas musibah tersebut membutuhkan perhatian serius dari kepala negara.
"Itu sangat luar biasa (kunjungan presiden ke AS) jika dilihat dalam
aspek kemanusiaan. Sebab tidak seharusnya Presiden meninggalkan
Indonesia disaat rakyat 40 juta lebih penduduk yang terdampak asap di
Sumatera dan Kalimantan butuh perhatian serius," ujar kepala departemen
penguatan organisasi rakyat, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Kent
Yusriansyah kepada Okezone, Selasa (27/10/2015).
Kent menambahkan, pihaknya mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam
menangani kabut asap. Bahkan, KPA menganggap insiden kabut asap sebagai
tragedi kemanusiaan lantaran tak kunjung tuntas.
"Sebab masalah asap ini jelas bagi KPA adalah tragedi kemanusian,
akibat buruknya tata kelola bisnis perkebunan dan kehutanan skala besar
yang mengabaikan prinsip keberlanjutan keseimbangan ekologis," imbuhnya.
Menyindir ungkapan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti yang menyatakan
masalah asap ini adalah persaingan bisnis, KPA menganggap sanksi
pencabutan izin bagi perusahaan yang terlibat tidaklah cukup. Terlebih
KPA bersama Walhi juga telah menyetor data kepada kepolisian dan
Kementerian Lingkuangan Hidup atas aksi kejahatan yang diduga dilakukan
oleh perusahaan yang memicu kabut asap.
"Upaya itu saja tidak cukup, jika sanksinya adalah pembekuan izin dan
paksaan lainya. Rekan-rekan Walhi dan KPA sudah menyetor datanya ke
Kementerian LHK, Kepolisian RI dan instasi terkait (terkait perusahaan
yang menyebabkan kabut asap). Masalahnya proses atas laporan itu sudah
sejauh mana itu yang belum kita ketaui dengan terang, mungkin masih
tertutup tebalnya kepulan asap para pengusaha pembakar hutan itu,"
pungkasnya.
Sumber



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !