Dituding telah melecehkan Sunda melalui plesetan salam Sampurasun, Muhammad Rizieq Syihab atau Habis Rizeiq akhirnya buka suara.
Melalui
akun Facebooknya, Habib Rizieq menjelaskan tentang hal yang dimaksudnya
tersebut. Berikut tulisan lengkap dari Habib Rizieq :
SAMPURASUN
Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...
Sampurasun adalah ucapan selamat masyarakat Sunda yang sangat terkenal dan mengandung unsur penghormatan kepada sesama.
Sampurasun
sebagai ADAT Sunda yang punya makna sangat baik dan amat bagus, serta
boleh digunakan untuk menyapa sebagai penghormatan, selama tidak
dijadikan sebagai pengganti SYARIAT "Assalaamu 'Alaikum".
Jadi, jangan adu domba ADAT dan SYARIAT, karena masing-masing ada tempat dan syarat serta cara penggunaan.
SALAM NUSANTARA
Di
masyarakat Indonesia ucapan Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore,
Selamat Petang dan Selamat Malam merupakan salam pergaulan nasional
untuk penghormatan terhadap sesama. Tentu sah-sah saja digunakan oleh
masyarakat Indonesia, sebagaimana di masyarakat Arab ada ungkapan
"Shobaahul Khoir" di pagi hari dan "Masaa-ul Khoir" di petang hari.
Namun,
ketika ada pihak yang ingin menjadikan salam pergaulan nasional sebagai
pengganti "Assalaamu 'Alaikum" di tengah umat Islam, dengan alasan
karena "Assalaamu 'Alaikum" hanya merupakan Adat dan Tradisi Arab yang
tidak ada kaitan dengan ajaran Islam, tentu jadi persoalan yang sangat
serius.
ASSALAAMU 'ALAIKUM
Salam masyarakat Arab
Jahiliyyah pada mulanya adalah "Wa Shobaahaa", atau yang sejenisnya,
lalu datang Islam mengajarkan umatnya untuk menggunakan "Assalaamu
'Alaikum" sebagai Tahiyyatul Islam yaitu salamnya kaum muslimin.
Sejak
itu "Assalaamu 'Alaikum" adalah Salam Islam bukan Salam Arab. Dan Salam
Islam menjadi salah satu rukun Shalat yang tidak sah Shalat tanpanya.
Nah,
jika "Assalaamu 'Alaikum" mau diganti dengan salam pergaulan nasional,
lalu apakah nanti salam Shalat Shubuh jadi Selamat Pagi, dan salam
Shalat Zhuhur jadi Selamat Siang, serta salam Shalat Ashar jadi Selamat
Sore, kemudian salam Shalat Maghrib jadi Selamat Petang, sedang salam
Shalat Isya jadi Selamat Malam ???
Camkan ... !!!
BUPATI PURWAKARTA
Bupati
Purwakarta, Dedi Mulyadi, sejak memimpin Purwakarta terus berusaha
menghidupkan kembali ajaran "Sunda Wiwitan", sehingga ia menghiasi
Purwakarta dengan aneka patung pewayangan seperti patung Bima dan
Gatotkaca, bahkan ditambah dengan aneka patung Hindu Bali.
Dia
pun mengaku telah melamar Nyi Loro Kidul dan mengawininya. Selanjutnya,
ia membuat Kereta Kencana yang konon katanya untuk dikendarai sang
isteri, Nyi Loro Kidul. Kereta Kencana tersebut dipajang di Pendopo
Kabupaten Purwakarta, dan diberi kemenyan serta sesajen setiap hari,
lalu dibawa keliling Purwakarta setahun sekali saat acara Festival
Budaya, dengan dalih untuk membawa keliling Nyi Loro Kidul buat
keberkahan dan keselamatan Purwakarta.
Dedi juga menganjurkan
agar siapa yang mau selamat lewat di jalan Tol Cipularang agar menyebut
nama Prabu Siliwangi. Dan beberapa tahun lalu, Dedi juga pernah
menyatakan bahwa suara seruling bambu lebih merdu daripada membaca
Al-Qur'an.
Selain itu, pohon-pohon di sepanjang jalan kota
Purwakarta diberi kain "Poleng", yaitu kain kotak-kotak hitam putih,
bukan untuk "Keindahan", tapi untuk "Keberkahan" sebagaimana adat Hindu
Bali, dan Dedi pun mulai sering memakai ikat kepala dengan kembang
seperti para pemuka adat dan agama Hindu Bali.
Dedi tidak bangga
dengan Islamnya, tapi ia bangga dengan patung, sesajen dan takhayyulnya,
yang dikemas atas nama Kearifan Lokal (Local Wisdom).
Saat
banyak Ulama dan para Da'i mulai memprotes dan mengkritik peri laku
"Syirik" Dedi, maka serta merta Dedi membuat Perbup (Peraturan Bupati)
tentang larangan ceramah provokatif yang menentang kebijakannya.
Belakangan,
Dedi mulai sering meninggalkan Salam Syariat Islam "Assalaamu 'Alaikum"
dan diganti dengan Salam Adat Sunda "Sampurasun". Dimana saja dan kapan
saja, Dedi terus mengkampanyekan aneka budaya "Syirik" nya yang
dibungkus dengan nama "Adat" dan "Budaya", serta dikemas dengan salam
santun masyarakat Sunda "Sampurasun".
Bahkan Dedi dalam salah
satu bukunya yang berjudul SPIRIT BUDAYA menyebut bahwa Islam adalah
BUDAYA. Padahal, Islam adalah Aqidah, Syariat dan Akhlaq yang bersumber
dari WAHYU ALLAH SWT, sedang Budaya bersumber dari akal pemikiran dan
perilaku manusia.
Pada halaman latar belakang buku tersebut
tertulis : “Warga Baduy mengajarkan kepada kita untuk tidak melawan
alam. Dalam pemahaman saya (Dedi Mulyadi, red) merekalah yang beragama
dan yang bertuhan secara benar.”
Selanjutnya di halaman 16
tertulis : “Kebudayaan itu derajat manusia, persis seperti agama.” Lalu
pada halaman 17 : “Saya sendiri menginginkan Sunda yang sesuai dengan
wiwitan atau identitas awalnya, Sunda yang menyerahkan diri terhadap
alam yang tidak mengenal simbolisasi penyembahan.”
Akhirnya,
banyak kalangan pemuka masyarakat Islam Purwakarta menyebutkan bahwa
Dedi bukan sedang memasyarakatkan "Sampurasun", tapi sedang merusak umat
Islam Purwakarta dengan "Campur Racun".
Tentu kita setuju,
bahwasanya Dedi Mulyadi memang bukan sedang memasyarakatkan kesantunan
salam Sunda "Sampurasun", tapi dia memang sedang merusak umat Islam
Purwakarta dengan "Campur Racun", yaitu meracuni aqidah umat dengan
aneka perbuatan "Syirik".
Karenanya, kami serukan jaga kesantunan
ADAT "Sampurasun" dalam rawatan SYARIAT "Assalaamu 'Alaikum", sehingga
ADAT dan SYARIAT tetap seiring sejalan.
Ayo, selamatkan "Sampurasun", dan tolak "Campur Racun".
Hasbunallaahu wa Ni'mal Wakiil ...
Ni'mal Maulaa wa Ni'man Nashiir ...
Sumber
Disebut Lecehkan Sunda, Ini Penjelasan Habib Rizieq
Written By Admin on Thursday, November 26, 2015 | 11:42 AM
Label:
Berita,
Seputar Padjajaran



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !