Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memastikan tidak ada impor beras sepanjang 2015 ini. Produksi pertanian tahun inmasih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Barat.
“Tidak ada impor beras. Buktinya, tidak ada beras dari luar yang masuk ke Bulog. Satu-satunya pintu impor beras kan ke Bulog. Jika tidak masuk ke Bulog, berarti tidak ada impor beras,” ujarnya seusai penanaman padi serentak wilayah Jabar di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (7/12/2015).
Heryawan menuturkan, impor beras tersebut tidak akan dilakukan selama lahan pertanian masih mencukupi. Untuk itu, dia mengimbau agar para petani menjaga lahan pertanian mereka agar tidak sampai beralih fungsi.
Selain mempertahankan lahan pertanian, lanjut dia, peningkatan produksi pertanian juga bisa dilakukan dengan metode intensifikasi, yakni mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian yang ada. Caranya, di antaranya dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan, memperbaiki irigasi, dan memberikan pupuk yang berkualitas.
“Dengan intensifikasi ini, kami targetkan produksi padi meningkat hingga 8 ton/hektare dari yang semula 5,9 ton per hektare. Sejumlah irigasi yang rusak akan diperbaiki, sementara bantuan pupuk juga terus diberikan bekerja sama dengan TNI/Polri,” tuturnya.
Tahun 2016 nanti, lanjut dia, Pemprov Jabar menargetkan produksi padi hingga 12 juta ton, naik dari target sebelumnya 11,5 juta ton. Dengan mempertahankan lai han pertanian dan intensifikasi, dia optimistis target tersebut bisa tercapai
Dia mengungkapkan, produksi pertanian tersebut berasal dari wilayah utara dan selatan Jawa Barat. Di wilayah utara, luas lahan pertanian mencapai 80 persen, sementara di wilayah selatan 20 persen. “Namun hasil panennya berbeda. Di wilayah selatan panen bisa 2,8 kali per tahun, sedangkan di utara hanya 1,8 kali per tahun. Dengan berbagai upaya, hasil panen di utara diharapkan bisa sama dengan di wilayah selatan,” tuturnya.
Senada dengan Gubernur, Bupati Bandung Barat Abubakar menargetkan produksi gabah kering giling di KBB hingga 232.390 ton atau 5,9 ton per hektare pada 2016."Target tersebut dapat dicapai dengan memaksimalkan produksi lahan sawah. Yang awalnya hanya 1-2 kali tanam setiap tahunnya, kini di maskimalkan menjadi 3 kali tanam tentu dengan memanfaatkan ketersediaan air secara maksimal," tuturnya.
Pada masa tanam 2014/2015, lanjut dia, para petani di beberapa daerah di KBB mengalami gagal panen akibat kekeringan. Sedikitnya 4.150 hektar sawah terkena imbas kekeringan, 950 hektare di antaranya puso.
Hal itu mengakibatkan produksi padi hingga November lalu baru mencapai 216.561 ton dari target 256.687 ton. "Artinya kita masih kekurangan 40.126 ton gabah kering giling. Namun, dibeberapa kecamatan masih bisa panen yang dapat menambah kekurangan capaian produksi tersebut," ujarnya. (



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !