Sekolah Santo Aloysius berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dan dunia dalam kategori "Siswa Terbanyak yang Memakai Seragam Batik Sekolah Hasil Karya Sendiri" di Sekolah Santo Aloysius, Jalan Batununggal Indah II No. 30, Bandung, Senin (22/2/2017).
Rekor itu dipecahkan oleh 2500 siswa dengan ragam corak batik konvensional dari Nusantara, dikerjakan oleh seluruh siswa mulai tingkat SD, SMP, hingga SMA. Kemudian siswa tersebut melaksanakan upacara bendera memakai kemeja batik yang dibuatnya sendiri. Proses pembuatan batik oleh siswa/i Santo Aloysius Bandung ini di kerjakan selama 5 bulan sejak bulan Agustus hingga Desember 2015.
Batik yang diciptakan sendiri adalah kombinasi batik tulis dan cap. Setiap siswa menciptakan kain batik dengan ukuran masing-masing SMA 2,5 Meter, SMP 2 Meter dan SD 1,5 Meter, lalu dijahit menjadi seragam batik sekolah.
Sementara untuk bahannya, menghabiskan kain mori sepanjang 7.000 meter, Canting 5.000 buah, lilin Batik 1.000 kg, Pewarna Batik 100 kg, Bahan Pelorod 100 kg, Minyak Tanah 700 liter serta Gas melon sebanyak 250 tabung.
Ketua Yayasan Satya Winaya Sherly Iliana mengemukakan, batik dipilih sebagai salah satu objek rekor yang ingin di pecahkan. Sebab, batik kini semakin diminati, bahkan oleh para pelajar dan anak muda. Dengan membuat batik, dia berharap, siswa-siswinya bisa lebih memaknai proses pembuatan batik dan filosofinya, tidak hanya sekadar mengenakan.
“Jika mereka paham soal proses pembuatannya yang tidak mudah dan mengerti filosofinya, maka mereka tidak hanya mengenakan batik karena senang saja, melainkan juga ada kebanggaan bahwa batik adalah warisan budaya negaranya sendiri,” paparnya kepada wartawan usai membuka acara Aloysius Batik Festival 2016.
Dia mengatakan, secara teknis, siswa-siswinya dilatih membuat batik sejak 4 bulan lalu. Mereka diberikan contoh batik khas Nusantara meliputi Jawa, Sumatera, Kalimantan dan lain sebagainya, tapi mereka dibebaskan untuk membuat corak batik sendiri sesuai kesenangannya. Alhasil, ada sekitar 2.500 corak batik dengan corak yang serba inovatif yang dikerjakan 2.500 siswa-siswi.
“Corak batik mereka ada kekhasannya. Kami ingin setiap corak batik ada motif bunga Lily-nya, sebagai simbol khas Santo Aloysius yang melambangkan kesucian,” tuturnya.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !