CISARUA - Sebanyak 19 orang penumpang tewas dan 34 lainnya terluka, setelah bus Giri Indah nopol B 7297 BI masuk ke tebing aliran Sungai Ciliwung sedalam hampir 10 meter di Jalan Raya Puncak KM 88, tepat di Kampung Persit, RT 01/RW 01, Desa Tugu Utara, Kec. Cisarua, Kab. Bogor, Rabu (21/8) sekitar pukul 08.00 WIB. Korban tewas seluruhnya dibawa ke Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua, sedangkan korban luka dilarikan ke RS Sentra Medika serta RS Sanatorium Cisarua.
Bus yang mengalami kecelakaan membawa rombongan jemaat GBI Rahmat Emmanuel Ministry (REM) dan jemaat gereja lainnya untuk melaksanakan Doa dan Puasa Ester di Kepenrey, Cipanas. Rombongan berada di Cipanas sejak Minggu (18/8) dan pada hari kecelakaan bus hendak kembali ke Jakarta.
Salah seorang saksi mata, Dani (23) mengatakan, saat kejadian bus tiba-tiba meluncur tak terkendali dari arah Puncak menuju Ciawi dengan kecepatan tinggi dan langsung menghantam dua toko. Bus juga menghantam mobil Suzuki Carry pick-up nopol F 8237 FK pengangkut gas elpiji, yang menghadap ke arah Puncak hingga terseret sekitar 15 meter. Pick-up yang dikemudikan Ade Saepudin (36), warga Cibeureum, Cisarua itu berhenti di depan warung untuk menurunkan tabung gas.
Bus kemudian meluncur masuk tebing aliran Sungai Ciliwung. "Dari atas sudah terlihat oleng, tiba-tiba meluncur ke arah toko dan menabrak mobil elpiji di depan saya. Sebelum kejadian, saya sempat narik sopir elpiji," ujar Dani.
Warga bernama H. Ajid yang sedang berada di pinggir jalan pun ikut terhantam bus dan tewas di lokasi kejadian. Dani mengaku tidak melihat ada sopir di belakang kursi kemudi saat bus tersebut meluncur ke arahnya.
Tersangka
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol. Martinus Sitompul mengatakan, dari hasil penyelidikan yang sudah dilakukan, sopir "bus maut" itu diketahui bernama Muhamad Amin (49), warga Kp. Bumi Ayu Salem, RT 01/RW 02, Desa Salem, Kec. Bumi Ayu, Kab. Brebes, Jateng.
Untuk penyebab kecelakaan, Martinus menyatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan. Namun dugaan sementara berdasarkan keterangan dari pengemudi, rem bus blong sehingga bus tidak dapat dikendalikan.
"Sopir bus telah diamankan oleh unit laka, namun masih dalam perawatan," terang Martinus.
Dijelaskan Martinus, pihaknya sudah meminta keterangan dari 6 orang saksi, baik warga sekitar tempat kejadian, pemilik warung, penumpang mobil pick-up serta kenek dan penumpang bus maut.
"Kami masih melakukan penyelidikan terkait kasus kecelakaan ini. Proses evakuasi korban sudah dilakukan. Untuk evakuasi kendaraan juga hingga sore tadi (kemarin, red) masih dilakukan," paparnya.
Sedangkan Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Bogor, Ajun Komisaris Polisi M. Chaniago mengatakan, kepada petugas sopir bus mengaku, rem mengalami blong sekitar 100 meter sebelum lokasi kejadian. Namun, sopir belum bisa dimintai keterangan lebih banyak karena harus menjalani perawatan medis.
Dikatakan Chaniago, karena kondisi tersebut, pihaknya belum bisa memberikan penjelasan bagaimana sopir bus maut tersebut berhasil menyelamatkan diri. "Saya belum dapat keterangan soal bagaimana dia menyelamatkan diri, apakah meloncat atau keluar dari bus setelah terdampar di dasar jurang, nanti akan kita tanya setelah kondisinya stabil," ujarnya.
Sanksi berat
Kecelakaan maut di jalur Puncak itu, mendapat perhatian Kapolda Jawa Barat, Inspektur Jenderal Suhardi Alius yang langsung meninjau lokasi kejadian. Kapolda mengatakan, kejadian maut ini merupakan yang kedua kalinya dalam sepekan di jalur Puncak. Jika hasil penyelidikan menunjukkan adanya ketidaklaikan kendaraan, Suhardi menilai pemerintah/instansi terkait belum serius dalam hal pengamanan moda transportasi yang membawa banyak penumpang. Menurut Suhardi, pihaknya masih meneliti penyebab pasti kecelakaan. Hanya saja, berdasarkan pengalaman, ada tiga variabel yang memengaruhi kecelakaan, yakni orangnya, kendaraan serta sarana dan prasarana.
"Kalau lihat sarana prasarananya, ini sudah oke. Tinggal dua kemungkinan, apakah orang atau kendaraan. Sudah banyak kasus kecelakaan karena rem blong. Kalau benar seperti itu, artinya pengamanan dalam hal moda transportasi belum mendapat perhatian. Padahal, mereka bawa penumpang banyak," ujarnya.
Kejadian ini, lanjut Suhardi, harus menjadi titik balik bagi semua pihak untuk memperbaiki pengamanan moda transportasi massal. Pihaknya menegaskan sanksi berat yang akan diterapkan kepada siapa pun yang bersalah dalam kecelakaan tersebut.
Laporan yang diterima Suhardi menyebutkan, ketebalan ban belakang bus sudah tidak sesuai. Selain itu, di lokasi juga ditemukan buku KIR yang masa berlakunya berakhir tahun 2005. "Soal KIR mati sejak tahun 2005, itu perlu kita dalami. Kalau betul, berarti ada yang salah dalam pengurusan KIR di Dishub. Apalagi, kejadian seperti ini sudah beberapa kali terjadi. Ini harus jadi titik balik untuk memperbaiki moda transportasi," tegasnya.
Salah seorang saksi mata, Dani (23) mengatakan, saat kejadian bus tiba-tiba meluncur tak terkendali dari arah Puncak menuju Ciawi dengan kecepatan tinggi dan langsung menghantam dua toko. Bus juga menghantam mobil Suzuki Carry pick-up nopol F 8237 FK pengangkut gas elpiji, yang menghadap ke arah Puncak hingga terseret sekitar 15 meter. Pick-up yang dikemudikan Ade Saepudin (36), warga Cibeureum, Cisarua itu berhenti di depan warung untuk menurunkan tabung gas.
Bus kemudian meluncur masuk tebing aliran Sungai Ciliwung. "Dari atas sudah terlihat oleng, tiba-tiba meluncur ke arah toko dan menabrak mobil elpiji di depan saya. Sebelum kejadian, saya sempat narik sopir elpiji," ujar Dani.
Warga bernama H. Ajid yang sedang berada di pinggir jalan pun ikut terhantam bus dan tewas di lokasi kejadian. Dani mengaku tidak melihat ada sopir di belakang kursi kemudi saat bus tersebut meluncur ke arahnya.
Tersangka
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol. Martinus Sitompul mengatakan, dari hasil penyelidikan yang sudah dilakukan, sopir "bus maut" itu diketahui bernama Muhamad Amin (49), warga Kp. Bumi Ayu Salem, RT 01/RW 02, Desa Salem, Kec. Bumi Ayu, Kab. Brebes, Jateng.
Untuk penyebab kecelakaan, Martinus menyatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan. Namun dugaan sementara berdasarkan keterangan dari pengemudi, rem bus blong sehingga bus tidak dapat dikendalikan.
"Sopir bus telah diamankan oleh unit laka, namun masih dalam perawatan," terang Martinus.
Dijelaskan Martinus, pihaknya sudah meminta keterangan dari 6 orang saksi, baik warga sekitar tempat kejadian, pemilik warung, penumpang mobil pick-up serta kenek dan penumpang bus maut.
"Kami masih melakukan penyelidikan terkait kasus kecelakaan ini. Proses evakuasi korban sudah dilakukan. Untuk evakuasi kendaraan juga hingga sore tadi (kemarin, red) masih dilakukan," paparnya.
Sedangkan Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Bogor, Ajun Komisaris Polisi M. Chaniago mengatakan, kepada petugas sopir bus mengaku, rem mengalami blong sekitar 100 meter sebelum lokasi kejadian. Namun, sopir belum bisa dimintai keterangan lebih banyak karena harus menjalani perawatan medis.
Dikatakan Chaniago, karena kondisi tersebut, pihaknya belum bisa memberikan penjelasan bagaimana sopir bus maut tersebut berhasil menyelamatkan diri. "Saya belum dapat keterangan soal bagaimana dia menyelamatkan diri, apakah meloncat atau keluar dari bus setelah terdampar di dasar jurang, nanti akan kita tanya setelah kondisinya stabil," ujarnya.
Sanksi berat
Kecelakaan maut di jalur Puncak itu, mendapat perhatian Kapolda Jawa Barat, Inspektur Jenderal Suhardi Alius yang langsung meninjau lokasi kejadian. Kapolda mengatakan, kejadian maut ini merupakan yang kedua kalinya dalam sepekan di jalur Puncak. Jika hasil penyelidikan menunjukkan adanya ketidaklaikan kendaraan, Suhardi menilai pemerintah/instansi terkait belum serius dalam hal pengamanan moda transportasi yang membawa banyak penumpang. Menurut Suhardi, pihaknya masih meneliti penyebab pasti kecelakaan. Hanya saja, berdasarkan pengalaman, ada tiga variabel yang memengaruhi kecelakaan, yakni orangnya, kendaraan serta sarana dan prasarana.
"Kalau lihat sarana prasarananya, ini sudah oke. Tinggal dua kemungkinan, apakah orang atau kendaraan. Sudah banyak kasus kecelakaan karena rem blong. Kalau benar seperti itu, artinya pengamanan dalam hal moda transportasi belum mendapat perhatian. Padahal, mereka bawa penumpang banyak," ujarnya.
Kejadian ini, lanjut Suhardi, harus menjadi titik balik bagi semua pihak untuk memperbaiki pengamanan moda transportasi massal. Pihaknya menegaskan sanksi berat yang akan diterapkan kepada siapa pun yang bersalah dalam kecelakaan tersebut.
Laporan yang diterima Suhardi menyebutkan, ketebalan ban belakang bus sudah tidak sesuai. Selain itu, di lokasi juga ditemukan buku KIR yang masa berlakunya berakhir tahun 2005. "Soal KIR mati sejak tahun 2005, itu perlu kita dalami. Kalau betul, berarti ada yang salah dalam pengurusan KIR di Dishub. Apalagi, kejadian seperti ini sudah beberapa kali terjadi. Ini harus jadi titik balik untuk memperbaiki moda transportasi," tegasnya.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !