Tana Toraja (Sulawesi Selatan) dan Sumba Barat (Nusa Tenggara Timur)
telah lama dikenal sebagai wilayah yang kaya akan tinggalan megalitik
baik megalitik yang telah mati maupun masih hidup. Budaya ini sangat
terkait dengan kepercayaan masyarakatnya tentang pemujaan leluhur, yang
dikenal sebagai Aluk Todolo di Toraja dan Marapu di Sumba Barat.
Pemujaan leluhur inilah yang menjadi konsepsi dasar atas pendirian
bangunan-bangunan megalitik di kedua daerah tersebut, yang masih
dilakukan hingga saat ini. Upacara tarik batu menjadi essensi penting
dalam pendirian bangunan megalitik, baik di Toraja maupun di Sumba
Barat. Mereka mencari batu bahan dasar bangunan dari daerah sekitarnya,
dan memahatnya menjadi bentuk yang diinginkan. Saat penyelenggaraan,
batu tersebut ditarik bersama-sama oleh ratusan bahkan ribuan orang
secara komunal menuju ke tempat baru yang diinginkan.
Sudah pasti bahwa upacara tarik batu yang menghabiskan biaya sangat
besar ini mencerminkan status sosial yang tinggi dari keluarga
penyelenggaranya. Dalam kasus pendirian menhir di Toraja, hanya bisa
dilakukan oleh keluarga bangsawan yang kaya karena mensyaratkan
penyelenggaraan upacara rapasan sapurandanan dimana minimal mereka harus
mengorbankan 24 ekor kerbau, seekor diantaranya adalah kerbau belang
(tedong bonga). Situasi di Sumba Barat juga sama, dimana upacara tarik
batu hanya dapat dilakukan kalangan tertentu karena mahalnya biaya
pelaksanaan. Paper ini akan membahas hubungan antara pemujaan leluhur di
Toraja dan Sumba Barat, dalam kaitannya dengan upacara tarik batu yang
mengiringi pendirian sebuah bangunan megalitik. Dalam hal ini, latar
belakang sosial keluarga yang melaksanakan upacara tersebut memainkan
peran sangat penting di dalamnya.
A. Pendahuluan
Dalam khasanah persebaran budaya megalitik di Indonesia, daerah Tana Toraja di Sulawesi Selatan dan Sumba Barat di Nusa Tenggara Timur, sudah lama dikenal sebagai wilayah yang kaya akan peninggalan megalitik. Budaya megalitik tua dan megalitik muda menyatu dalam keseharian penduduknya. Dengan latar belakang konsepsi religi yang dipandang sebagai warisan nenek moyang yang harus dipegang teguh. Seperti di Nias, ragam budaya megalitik beserta unsur-unsur prasejarah di kedua daerah tersebut telah sanggup menembus batas periode waktu secara teoritis, dan berlangsung hingga kini sebagai sebuah tradisi.
Dalam khasanah persebaran budaya megalitik di Indonesia, daerah Tana Toraja di Sulawesi Selatan dan Sumba Barat di Nusa Tenggara Timur, sudah lama dikenal sebagai wilayah yang kaya akan peninggalan megalitik. Budaya megalitik tua dan megalitik muda menyatu dalam keseharian penduduknya. Dengan latar belakang konsepsi religi yang dipandang sebagai warisan nenek moyang yang harus dipegang teguh. Seperti di Nias, ragam budaya megalitik beserta unsur-unsur prasejarah di kedua daerah tersebut telah sanggup menembus batas periode waktu secara teoritis, dan berlangsung hingga kini sebagai sebuah tradisi.
Di sinilah faktor menarik dari keberadaan bangunan-bangunan megalitik
di Tana Toraja dan Sumba Barat. Benda-benda budaya tersebut bukanlah
benda-benda mati (dead monuments), akan tetapi merupakan benda-benda
yang masih hidup (living monuments), yang melekat erat dengan ritme
religi masyarakatnya pada saat ini. Pemujaan arwah para leluhur
(ancestor worship) tetap merupakan inti dari setiap pendirian bangunan
megalitik tersebut, yang bersumber dari kepercayaan asli masyarakat.
Di
Toraja, kepercayan tersebut disebut aluk todolo, sementara di Sumba
Barat, mereka menyebutnya marapu. Aluk todolo mempunyai makna percaya
kepada para lelulur, di mana Tuhan (Puang Matua) menjalankan segalanya.
Nama Toraja sendiri berasal dari kata ‘To’ yang berarti orang, dan
‘riaja’ yang berarti pegunungan, sehingga Toraja berarti orang yang
berasal dari gunung. Gunung dianggap sebagai tempat suci, tempat
bersemayam para leluhur. Sementara marapu bertumpu pada pemujaan arwah
nenek moyang dan meyakini roh leluhur sebagai penghubung antara mereka
yang masih hidup dengan Sang Pencipta. Dalam kepercayaan marapu, Tuhan
disebut Amawolu amarawi yang secara harfiah berarti yang membuat dan
yang menciptakan. Penganut marapu percaya adanya Dewa-Dewa yang hidup di
sekeliling mereka. Mereka juga percaya bahwa arwah nenek moyang yang
telah meninggal dunia masih tetap hidup, sehingga mereka memperlakukan
arwah nenek moyang secara istimewa. Perlakuan istimewa tersebut antara
lain diwujudkan dalam bentuk pemberian sesaji secara berkala yang
dipersembahkan pada roh leluhur. Keberadaan ruang marapu di atap rumah
sebagai tempat sesaji untuk para Dewa juga merupakan salah satu contoh
kongkrit adanya kepercayaan pada roh leluhur.
Di antara ritme modernisasi yang menjangkau setiap sudut wilayah
Nusantara saat ini, pendirian bangunan megalitik yang masih terus
berlangsung merupakan salah satu kekayaan budaya tersendiri di Tana
Toraja dan Sumba Barat. Batu-batu besar dikerjakan di tempat, kemudian
ditarik beramai-ramai oleh masyarakat hingga mencapai tempat pendirian
bangunan yang diinginkan yang dapat mencapai kiloan meter jaraknya.
Inilah dedikasi mereka terhadap arwah para leluhurnya, yang tidak sirna
setelah puluhan generasi. Ciri khas megalitik di Tana Toraja dan Sumba
Barat semakin terasa dengan adanya upacara persembahan kepada arwah
leluhur yang tercermin dari upacara-upacara ritual yang terus
berlangsung hingga saat ini.
Tulisan ini bertutur tentang upacara tarik batu di Tana Toraja dan
Sumba Barat dalam rangka mendirikan bangunan-bangunan megalitik, sebagai
pengejawantahan sikap religi mereka terhadap arwah leluhur. Upacara ini
sendiri merupakan rangkaian prosesual dari upacara penguburan tradisi
megalitik, yang berlangsung secara eksotis, karena sudah jarang terjadi
dan berlangsung di tengah masyarakat modern, yang dibalut pekat dalam
tatanan budaya megalitik, budaya batu besar yang berasal dari akhir masa
prasejarah. Sebelum menginjak pada upacara tarik batu tersebut,
terlebih dahulu akan diuraikan jenis-jenis bangunan megalitik di kedua
daerah tersebut, demi diperolehnya gambaran yang lebih intens tentang
pemujaan arwah leluhur, benda-benda megalitik, dan upacara tarik batu
dalam proses pendirian bangunan-bangunan batu besar tersebut.
B. Peninggalan Megalitik di Tana Toraja dan Sumba
Beberapa tinggalan khas budaya megalitik dapat ditemukan di Tana Toraja saat ini, seperti batu tegak (menhir), kubur batu, lumpang batu, umpak batu, dan tempayan batu (Soejono, 1984). Dari berbagai jenis tersebut, menhir yang dalam istilah lokal disebut simbuang merupakan tinggalan yang mendominasi temuan megalitik di Tana Toraja. Simbuang didirikan dalam rangkaian upacara penguburan sebagai lambang si mati sekaligus sebagai monumen agar generasi penerus tetap menghormati dan melanjutkan tradisi mengagungkan para leluhur.
Beberapa tinggalan khas budaya megalitik dapat ditemukan di Tana Toraja saat ini, seperti batu tegak (menhir), kubur batu, lumpang batu, umpak batu, dan tempayan batu (Soejono, 1984). Dari berbagai jenis tersebut, menhir yang dalam istilah lokal disebut simbuang merupakan tinggalan yang mendominasi temuan megalitik di Tana Toraja. Simbuang didirikan dalam rangkaian upacara penguburan sebagai lambang si mati sekaligus sebagai monumen agar generasi penerus tetap menghormati dan melanjutkan tradisi mengagungkan para leluhur.
Bentuk menhir umumnya persegi panjang atau bulat oval dan meruncing
diatasnya. Bentuk tersebut ada yang diperoleh secara alami, namun
kebanyakan dibentuk dengan cara dipahat sampai menjadi bentuk yang
diinginkan. Menhir di Toraja hampir selalu berada di rante, yakni sebuah
tempat khusus yang diperuntukkan sebagai tempat upacara kematian satu
marga. Setiap keluarga besar memiliki rante masing-masing, sehingga
rante sering dianggap sebagai perkampungan kecil. Rante menjadi bagian
integral dari tiga komponen penting dalam pemukiman tradisional Toraja,
yaitu rante (tempat upacara), liang (kuburan) dan tongkonan (rumah
adat). Setiap upacara kematian harus dilakukan di rante agar arwah si
mati dapat mencapai kesempurnaan. Di tengah hiruk pikuk modernisasi,
orang Toraja tetap setia menjalin hubungan baik dengan arwah nenek
moyangnya, demi menjaga keharmonisan hidup, di dunia dan akherat.
Di lain pihak, tinggalan-tinggalan megalitik di Sumba Barat sebagian
besar berwujud kubur-kubur batu yang setidaknya terbagi menjadi lima
tipe yakni kubur batu terbuat dari monolit batu berbentuk bejana
(kabang), peti kubur batu yang tersusun dari lempengan-lempengan batu
bertutup ganda (kuru kata), peti kubur batu yang tersusun dari
lempengan-lempengan batu bertutup tunggal (kuru lua), kubur dalam tanah
yang diberi tutup batu datar (watu manyoba), dan peti kubur batu
berkaki/dolmen (watu pawesi). Semua jenis batu kubur di Sumba Barat
selalu terdiri dari wadah dan tutup kecuali watu manyoba dimana wadah
kubur berupa liang tanah. Dalam kepercayaan Sumba Barat, wadah kubur
melambangkan perempuan sementara tutup kubur melambangkan laki-laki.
Kubur batu di Sumba Barat hampir selalu berasosiasi dengan rumah
tempat tinggal, untuk menjaga kedekatan mereka dengan anggota keluarga
yang telah meninggal. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari adanya
anggapan bahwa roh leluhur dapat melindungi keluarganya yang masih
hidup. Letak kubur yang umumnya di depan rumah juga menjadikan keluarga
yang masih hidup senantiasa teringat kepada leluhurnya yang telah
meninggal dan memudahkan mereka untuk mengirim doa dan sesaji. Tata
letak peti kubur batu di Sumba Barat umumnya membentuk pola linear
(memanjang dengan orientasi utara-selatan, barat-timur), maupun
lingkaran (sirkular) dimana pada bagian tengahnya selalu terdapat tempat
khusus untuk pemotongan hewan korban dan kaduwatu yang berfungsi
sebagai pusat areal suci (Prasetyo, 1986). Sebuah kubur batu umumnya
ditempati sepasang suami istri, terkadang disertai dengan cucunya.
Jenazah seorang anak tidak boleh dikuburkan bersama orang tuanya, hal
ini didasari pandangan bahwa pada waktu hidup seorang anak yang telah
dewasa tidak boleh tinggal sekamar dengan orang tua, sehingga setelah
meninggal juga tidak boleh dimakamkan dalam kubur yang sama.
Kubur-kubur batu di Sumba Barat dibuat dengan teknik pengerjaan yang
rumit dan teliti. Beberapa jenis kubur batu, terutama watu pawesi,
umumnya dipahat dengan sangat halus dan memiliki pola hias raya, yang
masing-masing memiliki makna filosofi sendiri. Hiasan marangga yang
berbentuk perhiasan dada dan mamuli yang berbentuk seperti vagina yang
distilir melambangkan kesuburan. Hiasan kerbau dan babi melambangkan
status sosial, hiasan gong (katala) melambangkan kekayaan, hiasan
kura-kura melambangkan kaum bangsawan. Hiasan buaya, anjing dan kuda
melambangkan penjaga kubur (Kapita, 1976). Hiasan-hiasan lain berupa
geometris dan sulur-suluran memiliki makna keindahan.
C. Upacara Tarik Batu
Masyarakat Tana Toraja dan Sumba mengenal upacara tarik batu sebagai bagian dari tradisi menghormati leluhur. Di Tana Toraja, obyek megalitik yang ditarik adalah batu monolit calon sebuah menhir, yang didirikan sebagai representasi (simbol) si mati. Sementara di Sumba Barat, obyek megalitik yang ditarik adalah kubur batu yang merupakan tempat bersemayam abadi jasad leluhur.
Masyarakat Tana Toraja dan Sumba mengenal upacara tarik batu sebagai bagian dari tradisi menghormati leluhur. Di Tana Toraja, obyek megalitik yang ditarik adalah batu monolit calon sebuah menhir, yang didirikan sebagai representasi (simbol) si mati. Sementara di Sumba Barat, obyek megalitik yang ditarik adalah kubur batu yang merupakan tempat bersemayam abadi jasad leluhur.
Bahan batu diperoleh dengan cara penggalian di tempat tertentu di
Tana Toraja dan Sumba Barat, yang memang kaya akan berbagai jenis
batuan. Setelah menemukan sumber batuan yang tepat, beberapa pekerja
akan menatah dan memahat batu tersebut di tempat aslinya sesuai dengan
bentuk yang diinginkan. Pemahatan sebuah batu menjadi menhir di Tana
Toraja relatif lebih sederhana dibanding pemahatan sebuah batu kubur di
Sumba Barat yang bisa memakan proses berbulan-bulan sampai membentuk
batu kubur yang indah. Lamanya pengerjaan memahat menhir maupun batu
kubur tergantung besar kecilnya ukuran dan pola hiasnya. Setelah
pembuatan menhir atau kubur batu selesai, langkah selanjutnya adalah
penarikan batu dari lokasi asal menuju rante di Tana Toraja atau menuju
rumah sang pemilik kubur di Sumba Barat.
Prosesi penarikan menhir maupun kubur batu dari tempat asal menuju
lokasi baru merupakan fenomena yang sangat menarik. Ratusan atau bahkan
ribuan orang bekerja secara gotong royong menarik batu yang beratnya
bisa mencapai puluhan ton. Mereka bekerja tanpa imbalan uang, namun
penyelenggara upacara berkewajiban menyediakan konsumsi makanan selama
upacara berlangsung dan menyediakan hadiah daging bagi para penarik
batu.
Tarik batu di Tana Toraja
Orang Toraja percaya, bahwa sebelum resmi dimakamkan, orang yang telah meninggal dianggap sakit dan dibaringkan dalam tempat tidur. Jenazah kemudian disuntik formalin agar tidak membusuk, dimasukkan dalam peti mati dan disimpan di kamar. Setelah beberapa waktu, jenazah baru “dikuburkan”. Upacara penguburan, yang disebut rambu solok merupakan hal yang sangat penting dalam siklus kehidupan warga Toraja yang terkesan mewah dan eksotis. Solok memiliki arti harafiah matahari yang condong ke barat. Hal ini berarti, upacara rambu solok hanya boleh dilaksanakan setelah jam duabelas siang, saat matahari mulai condong ke barat, sebagai lambang dari kematian. Orang Toraja menganggap, seseorang telah benar-benar meninggal apabila telah dilaksanakan upacara rambu solok untuk menyempurnakan perjalanan arwah si mati ke alam baka yang kekal.
Orang Toraja percaya, bahwa sebelum resmi dimakamkan, orang yang telah meninggal dianggap sakit dan dibaringkan dalam tempat tidur. Jenazah kemudian disuntik formalin agar tidak membusuk, dimasukkan dalam peti mati dan disimpan di kamar. Setelah beberapa waktu, jenazah baru “dikuburkan”. Upacara penguburan, yang disebut rambu solok merupakan hal yang sangat penting dalam siklus kehidupan warga Toraja yang terkesan mewah dan eksotis. Solok memiliki arti harafiah matahari yang condong ke barat. Hal ini berarti, upacara rambu solok hanya boleh dilaksanakan setelah jam duabelas siang, saat matahari mulai condong ke barat, sebagai lambang dari kematian. Orang Toraja menganggap, seseorang telah benar-benar meninggal apabila telah dilaksanakan upacara rambu solok untuk menyempurnakan perjalanan arwah si mati ke alam baka yang kekal.
Batu yang tinggi dan panjang dari pegunungan di Tana Toraja, adalah
batu yang cocok dibuat menhir. Sekali batu dipilih, keramatpun segera
masuk ke dalamnya. Ada batu yang secara alami langsung dijadikan menhir
tanpa proses lanjut, namun ada juga yang harus dipahat dan dihaluskan di
lokasi asal sebelum ditarik ke rante. Saat upacara tarik batu (meriuk
batu) hampir seluruh kerabat dan warga desa terlibat dalam acara tarik
batu yang dipimpin oleh seorang pemangku adat. Kerbau pun segera
disembelih, darahnya ditampung pada bambu, dan dipercikkan pada batu
yang akan ditarik. Ini adalah simbol meminta ijin pada roh sang penguasa
batu sekaligus memberi “jiwa” pada batu, agar batu dapat ditarik dengan
lancar.
Diletakkan di atas landasan kayu yang bergulir, prosesi pendirian
menhirpun segera dimulai. Batu kemudian ditarik para lelaki secara
bergantian, dalam formasi barisan. Jumlah penarik batu tergantung ukuran
batu, semakin besar dan berat batu yang ditarik, semakin banyak pula
jumlah tenaga yang dibutuhkan. Sepanjang perjalanan, iring-iringan
penarik batu meneriakkan yel-yel pembangkit semangat yang biasanya
berupa nyanyian atau syair-syair. Para wanita mengiringi rombongan
penarik batu sambil membagikan minuman dan makanan kecil.
Sebagai gambaran, tarik batu menhir berukuran kecil yang berbobot
kurang dari 3 ton dapat dilakukan oleh sekitar dua ratus orang dalam
waktu 2 jam sejauh 3 km. Sesampainya menhir di rante, batu kemudian
ditanam secara berdiri. Pemimpin upacara melayangkan doa dan meresmikan
batu tersebut sebagai menhir (simbuang) orang yang diupacarakan. Sang
pendiri akan kekal menyatu dengan menhir. Keberadaan menhir simbuang
sangat penting dalam suatu proses daur hidup manusia Toraja dan
merupakan simbol status sosial, yang jelas menunjukkan kelas bangsawan
orang yang mendirikan dan memiliki menhir tersebut. Batu tegak itu
adalah pesan leluhur kepada para keturunannya di Tanah Toraja, bumi sang
orang-orang gunung, yang akan tetap hidup subur di setiap sanubari.
Dalam suatu kepercayaan Toraja, tidak jarang orang yang masih hidup
sudah memilih batu untuk dijadikan menhir pada saat upacara
penguburannya, karena dia menginginkan menhir terbaik yang dapat
merefleksikan dirinya. Berbeda dari daerah Sumba Barat, acara pembagian
daging di Toraja dilakukan sebelum acara tarik batu. Dari bala’kaan,
Tominaa membagi daging secara tradisional yang merupakan simbol
penegasan hubungan darah. Sehingga tujuan pembagian daging adalah untuk
mempertegas silsilah atau memperkenalkan hubungan kekerabatan atau
mengingatkan asal dan ikatan kekeluargaan mereka.
Tarik batu di Sumba Barat
Di Sumba Barat, persiapan upacara tarik batu dilakukan lebih rumit dan memerlukan persiapan matang karena obyek yang ditarik adalah batu kubur yang berukuran besar dan sangat berat. Di lokasi asal batu, beberapa tukang kayu yang dalam istilah lokal disebut monipelu membuat kuda-kuda (tenan) berupa dua gelondong kayu bulat utuh yang ukurannya disesuaikan dengan batu yang akan ditarik. Kedua ujung kayu disatukan dan dibentuk menyerupai kepala kuda. Walaupun tenan berbentuk kepala kuda, namun secara simbolis tenan melambangkan perahu sebagai kendaraan yang akan membawa kubur batu. Bahan kayu yang digunakan terbuat dari kayu kameti yang bersifat lentur dan tidak mudah patah.
Di Sumba Barat, persiapan upacara tarik batu dilakukan lebih rumit dan memerlukan persiapan matang karena obyek yang ditarik adalah batu kubur yang berukuran besar dan sangat berat. Di lokasi asal batu, beberapa tukang kayu yang dalam istilah lokal disebut monipelu membuat kuda-kuda (tenan) berupa dua gelondong kayu bulat utuh yang ukurannya disesuaikan dengan batu yang akan ditarik. Kedua ujung kayu disatukan dan dibentuk menyerupai kepala kuda. Walaupun tenan berbentuk kepala kuda, namun secara simbolis tenan melambangkan perahu sebagai kendaraan yang akan membawa kubur batu. Bahan kayu yang digunakan terbuat dari kayu kameti yang bersifat lentur dan tidak mudah patah.
Di atas tenan diberi kerangka kayu berbentuk empat persegi panjang
mengelilingi batu, sebagai tempat pegangan paaung watu dan untuk
meletakkan paji dan bendera. Paji adalah bentangan kain berwarna putih,
sedangkan bendera (regi khobu) berupa kain-kain tenun motif asli Sumba
yang merupakan sumbangan dari para kerabat. Paji dan bendera memiliki
makna untuk ”memayungi” kubur agar selalu dingin dan teduh. Di Sumba,
sesaat sebelum acara tarik batu dimulai, pemimpin proses tarik batu
(paaung watu), memberikan santan kelapa (way malala) yang dipercikkan ke
batu, sebagai simbol penyucian batu agar batu lebih mudah untuk
ditarik. Di atas batu juga disiapkan gong (katala) dan beduk (laba)
sebagai alat musik untuk memberikan semangat kepada para penarik batu.
Saat penarikan batu, sebagai alas digunakan balok-balok kayu bulat yang
disebut kalang sebagai landasan yang berfungsi sebagai roda. Kayu-kayu
bulat dengan diameter bervariasi tapi memiliki panjang rata-rata empat
meter diletakkan di sepanjang jalan yang akan dilalui batu. Alas kayu
itu tidak harus menutupi seluruh jalan, karena kayu yang telah dilalui
akan diambil dan dipasang kembali di depan hingga batu mencapai tempat
pendirian kubur.
Tali untuk menarik batu umumnya terdiri dari 10 buah dengan tiga
jenis bahan yakni tali plastik (tambang), tali dari sulur pohon tuba
(tuwa) dan rotan (uwi). Masing-masing tali ditarik oleh 50-100 orang,
sehingga total penarik batu setidaknya melibatkan ratusan orang. Apabila
dihitung dengan orang-orang lain yang bergantian menarik, setidaknya
sebuah upacara tarik batu besar diikuti oleh seribu orang. Masing-masing
tali memiliki fungsi, tali yang berada di ujung luar sebelah kanan atau
kiri berfungsi sebagai kemudi untuk mengatur arah batu, sementara tali
lain berfungsi untuk menarik batu.
Peran paaung watu sangat dominan, karena bertugas mengatur jalannya
upacara sambil senantiasa meneriakkan kata hutaya (semangat) setiap
saat. Terkadang untuk membangkitkan tenaga, dia meneriakkan kata
sindiran seperti mangumammi (perempuan kamu!), yang dijawab spontan oleh
massa, sambil mengerahkan segenap tenaga untuk menarik batu, dengan
teriakan munima (kami laki-laki!). Paaung watu adalah sang pemimpin dan
salah satu peletak sukses dalam upacara tarik batu, oleh karenanya, dia
harus memiliki kemampuan untuk mengatur dan memberi semangat kepada
massa penarik batu yang jumlahnya ribuan. Di sepanjang jalan yang
dilalui tersedia kendaraan yang membawa air minum kemasan maupun air
minum yang berasal dari mata air. Secara berkala mereka juga disiram air
untuk menghindari dehidrasi, karena panas matahari di daerah Sumba
Barat sangat terik.
Dalam perjalanan menuju rumah si pemilik batu, tidak selamanya tarik
batu berjalan lancar. Terkadang massa tidak dapat selalu diarahkan
sehingga arah batu menjadi melenceng bahkan tidak jarang batu bisa
miring atau terbalik. Belum lagi halangan lain berupa rusaknya tenan
atau kayu-kayu kalang karena tidak kuat menahan beban batu. Jika
halangan tersebut dirasa sangat mengganggu sehingga tidak bisa
dilanjutkan, maka acara tarik batu akan ditunda pada hari lain. Hal ini
sangat merepotkan karena sulit sekali mengumpulkan ratusan atau ribuan
orang dalam hari yang sama.
Jika perjalanan tarik batu lancar, sebuah kubur batu berbobot 12 ton
dapat ditarik seribu orang dalam waktu tujuh jam, dalam jarak 2,2
kilometer. Setelah batu kubur berada di depan rumah si pemilik, acara
selanjutnya menerima secara resmi sumbangan hewan-hewan dari para
kerabat yang umumnya berupa kerbau dan babi. Jika kerbau dan babi yang
disumbangkan berjenis kelamin jantan, maka para penerima tamu akan
membunyikan alat musik secara bertalu-talu. Sebaliknya jika hewan yang
disumbangkan berjenis kelamin betina, alat musik tidak dibunyikan.
Setelah dilakukan pencatatan terhadap semua sumbangan yang diterima,
acara berikutnya adalah kelar lima, yakni pembagian daging hewan kepada
seluruh masyarakat yang telah bergotong royong menarik batu. Secara
harfiah kelar lima memiliki makna : membersihkan tangan yang luka karena
menarik batu. Acara kelar lima diadakan oleh keluarga sebagai ungkapan
terima kasih kepada setiap orang yang telah terlibat secara aktif pada
acara tarik batu. Berbeda dengan daerah lain, pemotongan hewan di Sumba
dilakukan dengan cara ditikam dengan tombak dan kemudian tombaknya
dilepaskan. Dari leher binatang tersebut akan menetes darah sampai
binatang tersebut tergelepar mati kekurangan darah.
Pemilik acara juga wajib menyediakan makanan untuk segenap penarik
batu dan tamu-tamu yang hadir menyaksikan acara tarik batu. Menu utama
adalah nasi dan daging babi atau kerbau. Setelah acara tarik batu
selesai, belum berarti ritual persiapan kubur selesai. Pada umumnya,
saat ditarik, kubur batu belum diberi lubang jenazah dan belum dipasang
kaki-kaki kubur jika batu kubur berbentuk watu pawesi. Lubang jenazah
baru akan dibuat beberapa bulan setelah acara tarik batu selesai.
Biasanya pada saat itu sekaligus didirikan kaki-kaki batu untuk
menyangga kubur utama. Pekerjaan selanjutnya adalah memberikan hiasan
berupa menhir (kaduwatu) dan memahat pola hias sesuai yang dikehendaki.
Bagi orang Sumba, menyiapkan kubur batu sebagai tempat peristirahatan
terakhir merupakan satu kebutuhan. Sungguh merupakan satu kebahagiaan
yang sempurna, jika pada saat hidupnya, orang Sumba melihat secara
langsung persiapan dan pembuatan makam sebagai tempat istirahat abadinya
kelak. Sebuah kubur batu yang megah dipercaya menjadi semacam kendaraan
yang akan mengantar si mati ke dunia yang kekal. Melihat sebuah kubur
yang kelak akan dipakai sebagai tempat jenazahnya, mendatangkan rasa
nyaman dan prestise tersendiri, terlebih jika kubur tersebut terbuat
dari monolith besar yang untuk menarik dan membuatnya menjadi kubur
memerlukan biaya yang sangat besar.
D. Tradisi dari Sebuah Status Sosial
Walaupun sampai sekarang belum ada pertanggalan absolut pasti tentang kapan budaya megalitik mulai hadir di Tana Toraja dan Sumba Barat, namun dalam konteks budaya prasejarah, kubur-kubur batu tersebut merupakan kubur dari budaya megalitik muda, yang berkembang pesat di Indonesia sejak menjelang tarikh Masehi. Eksistensinya jelas merupakan tradisi tersendiri dari sebuah tata cara penguburan dari masa prasejarah, khususnya pada masa perundagian. Ciri-ciri budaya megalitik yang berintikan pemujaan kepada arwah leluhur (ancestor worship) itu tidak hanya terlihat dari pendirian dan pemakaian kubur-kubur batu, tetapi juga dapat dilihat dalam keseharian mereka. Rambu solok dan marapu yang masih dianut sebagian besar orang Toraja dan Sumba saat ini, merupakan kepercayaan asli yang bertumpu pada pemujaan arwah nenek moyang, meyakini roh-roh leluhur sebagai penghubung antara mereka yang masih hidup dengan Sang Pencipta. Inilah inti dari pendirian kubur-kubur batu tersebut.
Pada masyarakat yang mengagungkan para leluhur, upacara kematian
menduduki tempat yang istimewa. Mereka tidak segan mendedikasikan harta
benda yang dimiliki untuk memuliakan arwah leluhur. Memotong banyak
hewan kurban seperti kerbau dan babi hutan, telah menjadi sesuatu yang
esensi, yang diyakini akan memperlancar perjalanan arwah ke alam baka.
Di Tana Toraja, ketentuan adat menyatakan bahwa tidak semua orang berhak
mendirikan simbuang, kecuali kaum bangsawan, yang dilakukan pada saat
upacara kematian tingkat rapasan sapurandanan, yaitu upacara kematian
tingkat tertinggi. Upacara ini mensyaratkan memotong sekurang-kurangnya
24 ekor kerbau, satu ekor di antaranya harus dipotong menjelang acara
tarik batu. Sehingga terkadang terdapat sebuah ironi, misalnya keluarga
bangsawan, namun apabila secara ekonomi dia tidak kaya, maka hanya
sanggup menyelenggarakan upacara penguburan yang sederhana. Pendirian
menhir simbuang di Tana Toraja yang merupakan bagian dari rangkaian
upacara rambu solok adalah sebuah contoh refleksi dari almarhum, dimana
menhir tersebut diberi nama sesuai nama pemiliknya. Menhir simbuang
adalah wakil si mati di dunia, sehingga si mati seakan-akan tetap berada
di tengah-tengah kerabat, ketika arwahnya telah abadi di alam baka.
Dari fungsi praktis untuk mengikat hewan kurban, akhirnya menhir
simbuang menjelma menjadi simbol status sosial bagi pendirinya.
Upacara tarik batu, baik di Tana Toraja maupun Sumba merupakan
refleksi status sosial si mati, karena memakan biaya yang amat besar.
Hanya keluarga bangsawan dan memiliki kekayaan materi berlebih yang
mampu menyelenggarakan upacara tersebut. Selain itu, penyelenggara acara
hampir pasti merupakan tokoh yang disegani di daerahnya, sehingga dapat
dengan mudah mengumpulkan ratusan bahkan ribuan orang untuk terlibat
dalam acara tarik batu. Terdapat dua sisi yang cukup signifikan dalam
setiap upacara tarik batu tersebut. Selain sebagai status sosial sang
penyelenggara, upacara tersebut juga merupakan “dharma” warga setempat
dalam dedikasi mereka kepada arwah leluhur. Setiap anggota masyarakat,
tanpa ada paksaan, akan bekerja bersama-sama dalam mendirikan bangunan
megalitik. Rasa solidaritas adalah inti dari upacara tarik batu ini,
karena mereka beranggapan bahwa dengan cara seperti ini akan diperoleh
ketentraman dan kesuburan yang dilimpahkan oleh nenek moyangnya
(Atmosudiro, 1981). Oleh karena itu, upacara tarik batu identik dengan
biaya upacara yang sangat besar, yang hanya dapat dilaksanakan oleh
orang-orang kaya dengan status sosial tinggi. Semakin raya upacara ini
dilaksanakan, semakin tinggi pula status sosial yang akan didapat sang
penyelenggara.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !