Ketertarikan dengan Islam sudah dimulai sejak ibunya meninggal dunia
saat Annisa berusia 7 tahun. Tinggal bersama pembantu rumah tangga, ia
kerap memerhatikannya shalat. Ketertarikan itu terus berlanjut hingga
SMA.
Ia lebih dekat dengan teman-teman Muslim dibandingkan teman-teman
agama lain yang mendominasi masa sekolahnya. Suara adzan di televisi
juga memberi ketenangan pada hatinya. Pada 2002, melalui percakapan
internet, secara acak ia bertemu seorang teman yang mengenalkan Islam
padanya.
Percakapan internet berlanjut menjadi diskusi seputar Islam via
telepon. Sampai akhirnya Annisa bersyahadat melalui telepon. Meski
awalnya sembunyi-sembunyi, Ayah Annisa merelakan keislaman putri
tunggalnya itu meski tak semua sanak keluarga bisa menerima.
Tekanan dari orang-orang terdekat membuat Annisa kesulitan
mempelajari Islam di Surabaya. Hingga akhirnya pada 2005 ia kabur ke
Jakarta demi menyelamatkan keimanannya. Di Jakarta, ia mempelajari Islam
dengan sungguh-sungguh.
Hatinya yang kosong karena doktrin-doktrin agama yang sebelumnya
dianut, kini ia telah terisi dengan kedamaian dalam mempelajari Islam.
Meski keluarganya, selain ayah Annisa, belum dapat menerimanya, ia tetap
berdoa suatu saat ada hidayah yang juga menyentuh keluarganya. Amin..
Sumber//


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !