Headlines News :

Followers

Powered by Blogger.
Home » » Perajin Manisan Masih Minim Perhatian

Perajin Manisan Masih Minim Perhatian

Written By Unknown on Wednesday, May 14, 2014 | 12:00 PM




Manisan khas Cianjur yang dijual di sejumlah kios oleh-oleh di Kabupaten Cianjur banyak dipasok dari luar daerah. Hanya 20 persen pedagang oleh-oleh yang ada di Kabupaten Cianjur menjual manisan buatan perajin asal Kabupaten Cianjur.

"Sisanya 80 persen dipasok dari Jakarta," ujar perajin manisan Muhammad Aceng Komarudin (43), di RT 1/1 Kampung Cijoho, Desa Cikaroya, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Selasa (13/5).

Pria yang juga Ketua Asosiasi Pengolahan Hasil Tanaman Pangan dan Holtikultura ini mengatakan, manisan hasil perajin asal Kabupaten Cianjur lebih banyak dijual ke luar daerah ketimbang di Kabupaten Cianjur. Di antaranya Tanggerang, Kalimantan, Batam, Bandung, Bogor, Karawang, Purwakarta, Sumedang, Garut, dan Tasikmalaya.

"Ini karena kepedulian pemerintah terhadap produk manisan buatan perajin Kabupaten Cianjur masih kurang. Belum ada pengakuan seperti di Depok, yakni belimbing. Padahal manisan sendiri bisa juga menjadi ikon Kabupaten Cianjur," ujar pria yang akrab disebut Komarudin itu.

Komarudin menambahkan, dipasoknya manisan dari Jakarta ke sejumlah toko oleh-oleh di Kabupaten Cianjur disebabkan harganya lebih murah ketimbang buatan perajin asal Kabupaten Cianjur. Manisan asal Jakarta per kilonya dihargai Rp 18 ribu. Sedangkan manisan asli buatan perajin asal Kabupaten Cianjur dihargai Rp 20-25 ribu.

"Kalau dari segi daya tahan lama jauh beda. Itu kenapa ada pemberitaan penggunaan zat pengawet untuk manisan sehingga juga berdampak terhadap tingkat penjualan manisan ini yang ikut melesu. Mungkin berbeda kalau pemasoknya diawasi dan terdaftar oleh pemerintah Kabupaten Cianjur," ujar Komarudin.

Selain itu, lanjut Komarudin, manisan yang dibuat perajin asal Kabupaten Cianjur menggunakan buah yang sudah masak. Itu sebabnya manisan buatan perajin asal Kabupaten Cianjur harganya tak menentu bergantung dengan harga bahan baku. Sementara manisan dari Jakarta diduga menggunakan buah yang masih mentah sehingga harganya bisa lebih murah.

"Kalau lagi musim panen buah bisa murah harganya. Untuk mangga misalnya, bisa Rp 2 ribu per kilonya kalau lagi musim. Tapi kalau sulit atau lagi tidak musim harganya buahnya pasti ada selisih. Selisihnya bisa sampai Rp 6 ribu," ujar Komarudin.

Komarudin menyebut, manisan Cianjur sudah selayaknya menjadi ikon Kabupaten Cianjur seperti halnya Tahu Sumedang. Meski di jual di luar Sumedang, warga mengetahui jika tahu berkulit coklat itu merupakan Tahu Sumedang

Apalagi manisan Cianjur sudah menjadi makanan yang paling dicari pengunjung di berbagai acara pameran makanan tradisional ketika mendatangi stand Kabupaten Cianjur.

"Kami juga berharap ada suatu tempat penjualan oleh-oleh yang terpusat di mana makanannya juga harus hasil perajin dari Kabupaten Cianjur," ujar Komarudin. Adapun perajin manisan asal Kabupaten Cianjur terhitung ada 10 yang tersebar di Kecamatan Cianjur, Kecamatan Karangtengah, Kecamatan Gekbrong, dan Kecamatan Karangtengah.

Sumber//
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BANDUNG

BANDUNG

DPRD KOTA BANDUNG

GEDUNG SATE BANDUNG

GEDUNG SATE BANDUNG
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Media Padjajaran - All Rights Reserved
Original Design by Creating Website Modified by Adiknya