
Seni Pencak Silat Minim Perhatian Pemerintah
Masyarakat Pencak Silat Indonesia (Maspi) mengharapkan pemerintah
memerhatikan kondisi seni Pencak Silat yang semakin ditinggalkan.
Sementara pratisi seni Pencak Silat sejumlah negara Eropa justru mencari
dan berlatih langsung seni Pencak Silat dari tokoh pewaris.
“Dalam acara ini, diantara diskusi (ngadu bako) sengaja diselingi dan
ditampilkan sesepuh dari beberapa paguron yang mewakili aliran seni
Pencak Silat. Kenapa? Karena kami dari Maspi merasa khawatir dari waktu
ke waktu seni Pencak Silat yang merupakan seni tradisi asli bangsa
Indonesia semakin hilang bersama dengan perkembangan seni Pencak Silat
menjadi ilmu beladiri dan olah raga untuk mengejar prestasi,” ujar
Wahdat Mardi Yuana, Kepala Subdit Seni Pertunjukan Direktorat Direktorat
Kesenian Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, yang juga sesepuh seni
Pencak Silat, pada acara “Temu Pendekar jeung Ngadu Bako” bertajuk
“Ngaguar Pencak Silat ti Bihari ka Kiwari”, Minggu (4/5/2014) di Gedung
Indonesia Menggugat (Landraad) di Jalan Perintis Kemerdekaan.
Diungkapkan Wahdat, di sejumlah negara Eropa, seperti Belanda,
Italia dan Prancis seni Pencak Silat diajarkan secara khusus. Bahkan di
Belanda dan Italia sudah ada akademi atau perguruan tinggi Pencak Silat
yang secara rutin mengundang atau mendatangkan sesepuh seni Pencak Silat
dari Indonesia, atau pengajarnya datang langsung ke Indonesia ke tempat
atau paguron Pencak Silat yang masih benar-benar mengajarkan seni
Pencak Silat, bukan olahraga beladiri Pencak Silat.
Bahkan menurut Wahdat, Presiden Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia
(Pesaka), Datuk Sri Utama Mohamad bin Haji Hasan, menegaskan bahwa seni
bela diri pencak silat sudah diakui sebagai olahraga negara Malaysia.
Untuk itu, pencak silat sudah tertuang dalam Garis Besar Haluan Negara
Malaysia.
Sebagai bukti keseriusan untuk pengembangan, Malaysia sudah
menuangkan pencak silat dalam bentuk kurikulum dengan mendapat bantuan
dari Presiden Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (Persilat). "Tentu
dengan langkah memasukkan pencak silat sebagai olahraga negara Malaysia,
secara tidak langsung membuat kita yang selama ini berkecimpung dalam
pembinaan dan pengembangan pencak silat ke penjuru dunia merasa iri,
miris, prihatin dan berbagai perasaan lainnya,” ujar Wahdat.
“Temu Pendekar jeung Ngadu Bako” bertajuk “Ngaguar Pencak Silat ti
Bihari ka Kiwari”, Minggu (4/5/2014), dihadiri sekitar 20 sesepuh dari
sejumlah Paguron Pencak Silat berbagai aliran atau jurus seni Pencak
Silat. Tampil secara bergantian Ki Sumarta (105) dari Paguron Benteng
Padjajaran, Haji Azis (65) Cikalong Cianjur, Ki Eme (99) Putra Siliwangi
Garut, Kusnadi (88) Kota Cimahi, Ki Enton (84) dari Paguron Santika
Ujungberung, serta sejumlah sesepuh dari paguron Pencak Silat lainnya
dan turut unjuk kabisa Claudio Conti pemilik akademi seni Pencak Silat
Claudio Conti Academy di Turin Italia.


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !