Dinamakan Angklung Bungko adalah karena kesenian tersebut tumbuh dan
besar di daerah Bungko, Cirebon Utara. Kesenian ini tercipta atas dasar
luapan emosi kegembiraan masyarakat Bungko setelah memenangkan perang
melawan pasukan Pangeran Pekik (Ki ageng Petakan).
Dalam perkembangan selanjutnya, musik ritmis (kentongan) yang mereka
ciptakan banyak mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Perubahan-perubahan tersebut dapat di pahami, sebab isi dan konteks seni
pertunjukkan di daerah-daerah di mana pun di dunia, akan terus
mengalami perubahan seiring dengan perubahan dalam sistem kehidupan
secara menyeluruh. Adapun proses perubahan dalam tubuh Angklung Bungko
sebagian besar terjadi pada pergantian alat musiknya,me misalnya:
seperti alat musik perkusi (kentongan) diganti dengan alat musik
bernada, Angklung dan di tambah dengan memasukkan instrumen reog
(dogdog), maka pertunjukkan Angklung Bungko pun berubah bentuk menjadi
mirip dengan seni pertunjukkan reog di Priangan (Sunda) tetapi tidak
lama kemudian, Angklung Bungko pun mengalami perubahan kembali dengan
membuang instrumen dogdog dan di ganti dengan kendang dan gong, kemudian
memasukkan unsur tari. Dengan masuknya unsur tari, maka sejak saat
itulah Angklung Bungko menjadi seni pertunjukkan musik dan tari.
Gerak tari dalam Angklung Bungko lebih merupakan penggambaran
peperangan saat masyarakat pemilik kesenian tersebut mematahkan serangan
pasukan Pangeran Pekik. Hal ini sangat erat kaitannya dengan cerita
masa lalu di mana Ki Ageng Bungko atau Ki Gede Bungko yang berkedudukan
sebagai Senopati Sarwajala (Panglima Angkatan Laut) di Kesultanan
Cirebon memiliki pengetahuan dan taktik tempur yang tinggi serta
keberanian yang luar biasa.
Tari tarian tersebut adalah:- Panji, menggambarkan sikap berdzikir
- Benteleye, menggambarkan sikap bertindak dalam menghadapi rintangan dalam perjalanan
- Bebek Ngoyor, menggambarkan jerih payah dalam upaya untuk mencapai tujuan
- Ayam Alas, menggambarkan kelincahan dalam mencari sasaran yang terpilih
Tari Angklung Bungko dapat kita lihat pada Upacara Adat Ngunjung, yaitu Upacara untuk berkunjung atau khaul kepada makam leluhur yang pada intinya adalah melakukan do’a bersama sebagai tanda bakti seorang anak kepada orang tua.
Tata Rias Busana
Tata rias busana para pelaku Angklung Bungko yang asli adalah sebagai berikut:
Penari : Celana Sontog, Kain Batik, Baju Rompi, kaca Mata Hitam dan Ikat Kepala
Pemusik : Celana Sontog, Kain Batik, Baju Komboran dan Ikat Kepala
Sumber//


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !