Headlines News :

Followers

Powered by Blogger.
Home » » Pemimpin Baru tak Perlu Nasionalisme Baru

Pemimpin Baru tak Perlu Nasionalisme Baru

Written By Unknown on Monday, June 2, 2014 | 6:20 AM

ERIYANTI/"PRLM"Pemimpin baru Indonesia tidak perlu nasionalisme baru karena nasionalisme yang ada pun belum dijalankan. Nasionalisme Indonesia sekarang adalah bagaimana dapat hidup berinteraksi dengan bangsa-bangsa dunia.

Guru Besar Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad, Dede Mariana mengemukakan hal itu pada diskusi dan bedah buku "Kepemimpinan Indonesia" yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa (KM) ITB di Selasar Bank Niaga, ITB, Jln. Ganesha 10 Bandung, Minggu (1/6/2014).

Acara yang digelar untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila 1 Juni ini semula tidak mendapat izin dari Rektorat ITB. Rektorat ITB mengeluarkan larangan diadakannya kegiatan mahasiswa sejak Kamis lalu sampai waktu tidak ditentukan. Dengan alasan karena KM ITB membuat gerakan "Untuk Tidak Memilih".
Namun izin akhirnya turun pada Sabtu (31/5/2014) tetapi ruangan semula yang akan digunakan, malah dikunci hingga diskusi pun digelar di selasar saja.

Dede Mariana mengatakan, Indonesia harus kembali pada cita-cita proklamasi,dapat memerdekakan diri, memotong masa lalu, dan mengisi Indonesia saat ini tanpa perlu embel-embel nasionalisme baru.

Nasionalisme Indonesia sekarang adalah adanya rasa percaya diri sebagai bangsa di hadapan dunia. Bukan malah mengaku sebagai bangsa Malaysia karena malu dan tidak mau disamakan dengan "babu-babu" yang dikirim pemerintah Indonesia ke Malaysia.

"Kenyataan seperti itu menjadi bukti bahwa pemerintah telah gagal menyediakan policy kebijakan di dalam negeri," demikian Dede Mariana.

Hal sama terjadi di Indonesia bagian timur. Beberapa daerah lebih mau bekerjasama dan menyerahkan aset daerahnya yang besarnya triliunan kepada pihak asing karena mereka sudah tidak percaya kepada bangsa sendiri.

Karena berhadapan denga Indonesia sekarang berarti berhadapan dengan empat jenis preman yang harus dihadapi, yaitu preman pasaran (memanfatkan fisik), preman berseragam (memanfaatkan seragam seperti PNS, tentara, polisi, dll), preman bertasbih (memanfaatkan agama), dan preman di balik toga (memanfaatkan guru besar, dosen, mahasiswa, dll). "Kalau empat preman ini bersatu, eksitensi bangsa ini sangat berbahaya," ujarnya.

Ikhwal buku "Kepemimpinan Indonesia (Metodologi Pencegah "Negara Gagal") karya Roch Basoeki Mangoenpoerojo, Dede Mariana menilai, buku ini menawarkan banyak pilihan tentang kepemimpinan di Indonesia.

Sangat khas tentara. Namun, kalau dibaca lebih cermat, buku ini hanya menawarkan dua pilihan sebagai jalan keluar kepemimpinan di Indonesia, yakni saya yang mati atau kamu yang mati.

Artinya, kata Dede, Roh sebagai penulis sangat menggampangkan dalam memberi jalan keluar bagi persoalan-persoalan kepemimpinan di Indonesia. Karena dari ratusan atau bahkan mungkin ribuan persoalan kepemimpinan di Indonesia yang kompleks, roh hanya menuliskannya semua persoalan tersebut ke dalam 12 bab saja.

Namun demikian, Dede mengajak semua pihak khususnya peserta diskusi untuk berterima kasih kepada Roh. Karena Roh termasuk pensiunan tentara yang masih mau memikirkan negara. Roh adalah "pemimpi" yang masih tersisa dari zamannya.

Menurut Dede, para pensiunan tentara umumnya cenderung mengurusi jasa pengamanan. "Tetapi Roh malah sering mengajak saya untuk berdiskusi memikirkan keadaan bangsa ini daripada mengelola jasa pengamanan," ujarnya.

Selain Dede Mariana, diskusi yang juga dihadiri Wakil Rektor Universitas Kristen Maranatha, Gai Suhardja ini, menampilkan juga pembicara dari KM ITB dan dihadiri berbagai kalangan dan mahasiswa.

Sumber//
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BANDUNG

BANDUNG

DPRD KOTA BANDUNG

GEDUNG SATE BANDUNG

GEDUNG SATE BANDUNG
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Media Padjajaran - All Rights Reserved
Original Design by Creating Website Modified by Adiknya