Bangunan dan fasilitas yang dimiliki Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak
(RS KIA) Kota Bandung jauh dari laik. Tak hanya antrean warga yang
terjadi setiap hari. Para bayi yang baru saja dilahirkan pun dipaksa
berbagi tempat tidur karena keterbatasan tempat tidur.
RS KIA terletak di kawasan pasar dan deretan ruko serta lapak
pedangan barang bekas. Memiliki 65 tempat tidur, rumah sakit yang resmi
beroperasi sejak 2008 ini kewalahan memenuhi tingginya permintaan
masyarakat kelas menengah ke bawah atas layanan kesehatan.
“Saya merasa sedih melihat kondisi seperti ini setiap hari. Keinginan
kami dan pemerintah kota tentu melayani warga seoptimal mungkin, tapi
harus diakui gedung dan fasilitas yang kami miliki ini sudah tidak laik
lagi,” tutur Direktur RS KIA Nina Manarosana.
Dijelaskan Nina, akibat tidak laiknya fasilitas, banyak warga yang
tak tertampung sehingga memunculkan kesan rumah sakit menolak pasien
miskin. Keterbatasan ruangan dan tempat tidur juga berimbas pada antrean
panjang warga. “Terpaksa kami berupaya memulangkan pasien secepat mungkin karena
antrean banyak. Padahal idealnya mereka tinggal minimal tiga hari,”
katanya.
Khusus untuk ruangan perawatan bayi, Nina punya cerita lain. “Karena
tempat tidur terbatas, di sini sudah biasa bayi yang dirawat harus
berbagi. Satu tempat tidur dipakai dua atau tiga bayi. Kasihan sekali,
tapi ya bagaimana lagi. Seperti ini kondisinya.”
Nila (24), warga Cibangkong, menceritakan betapa padatnya RS KIA
ketika melahirkan anak pertamanya, Sayla, empat bulan lalu. “Tadi ketika
memeriksakan anak karena sakit flu, kondisinya masih sama. Penuh,
antreanya panjang,” ujarnya didampingi sang suami, Edo (25).
Dari 65 tempat tidur yang dimiliki RS KIA, 61 di antaranya merupakan
kelas III. Karena itulah, hampir semua pasien yang datang ke sini adalah
warga kelas menengah ke bawah. Mereka memanfaatkan fasilitas layanan
kesehatan gratis yang disokong berbagai program pemerintah, mulai dari
Jampersal hingga BPJS. Imbasnya, sekitar 70 persen dari total pendapatan
RS KIA berasal dari klaim.
Nina Manarosana mengungkapkan, karena mayoritas pasien merupakan
warga miskin, pihak rumah sakit menerapkan kebijakan pelayanan yang
dimudahkan. “Kami tidak mempersulit proses administrasi. Semua warga
yang datang dilayani dulu tanpa menanyakan ini-itu. Itulah barangkali
mengapa minat warga begitu tinggi,” ucapnya.
Sumber//


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !