Permainan tradisional anak perlahan mulai dilupakan seiring
perkembangan teknologi. Anak-anak masa sekarang dinilai lebih memilih
permainan modern yang dimainkan di komputer atau smartphone.
Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kak Seto
mengapresiasi pemecahan rekor MURI permainan tradisional. Pasalnya saat
ini anak-anak mulai melupakan permainan tradisional yang menjadi ciri
khas bangsa.
"Permainan modern bisa berdampak negatif karena anak kurang bergerak.
Padahal permainan tradisional itu melatih gerak motorik anak," ujar kak
Seto.
Kak Seto menambahkan permainan tradisional juga mengajarkan cara
bersosialisasi kepada anak. Aspek kognitif, sosial, moral dan spiritual
juga bisa dilatih.
"Permainan tradisional harus terus dikembangkan. Karena mengenalkan budaya asli bangsa kita," katanya.
Hal tersebut disampaikan setelah mengahadiri pemecahan rekor permainan tradisional anak yang diikuti sekitar 2500 anak di Lapangan Upakarti Kompleks Pemkab Bandung. Mereka akan memainkan 200 permainan tradisiona terdiri dari
anak usia Sekolah Dasar (SD). Para siswa SD tersebut akan memecahkan
rekor Museum Rekor Indonesia (MURI).
Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan dari deklarasi
antipaedophilia yang diadakan Polres Bandung dan Pemkab Bandung.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Kapolres Bandung AKBP Jamaludin dan Bupati
Bandung Dadang Naser.
Sumber//



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !