Headlines News :

Followers

Powered by Blogger.
Home » » Upacara Nurunkeun, Mengenalkan Bayi pada Bumi

Upacara Nurunkeun, Mengenalkan Bayi pada Bumi

Written By Admin on Friday, February 12, 2016 | 2:32 PM

Ada momen langka yang diperoleh para peserta pembinaan kesejarahan dan nilai tradisi di Kampung Ciptagelar. Hari ini, Rabu (20/5/2015) ada upacara nurunkeun (nginjak bumi). Sebuah upacara adat menginjak bumi bagi bayi baru lahir yang dilakukan masyarakat adat Kampung Ciptagelar.
Kali ini, upacara digelar oleh keluarga Aki Karma (rorokan jero dan Padukunan) yang dilakukan untuk cucu pertamanya dari pasangan Aki Upin.
Kebahagiaan begitu nampak dari raut wajah Aki Karma saat sang bayi menginjakan kakinya ke tanah (Bumi).
Sebelumnya dilakukan doa keselamatan, keberkahan, kesehatan bagi sang bayi oleh Aki Karma dan Paraji.
Usai doa, paraji membawa sang bayi bersama ibunya untuk melakukan upacara nurunkeun. Si paraji kemudian membuat gambar empat arah mata angin di dalam lingkaran. Kemudian disetiap arah mata angin disimpan sejumlah uang, dan dibagian tengah disimpan uang yang nilainya lebih tinggi dari uang yang ada di empat arah mata angin.
Kemudian ditaburi beras berwarna kuning dan putih. Di sebelahnya pedupaan dan kemenyan terus menyala dan mengeluarkan asap.
Setelah doa dia dipanjatkan, kemudian si Jabang bayi diturunkan kakinya ke atas tanah (Bumi) atau lungsuran. Dengan dipangku sang ibu, kaki sang bayi ditempelkan ke tanah, uang, beras dan empat arah mata angin.
Sementara si kakek dan nenek sang bayi melemparkan sejumlah uang dan permen (nyawér) ke warga yang sudah berkumpul di luar rumah.
Untuk memeriahkan upacara nurunkeun, sejumlah lelaki dewasa menyalakan kembang api. Sehingga suasana pun bertambah meriah.
Makna upacara nurunkeun, kata Aki Karma, ke depan kelak si Jabang bayi akan menginjakkan kaki. Sebelum itu dilakukan, sejak dini sang bayi dikenakan dengan bumi (tanah). Selain tanah, sang bayi pun dikenakan dengan dewi sri yabg dilambangkan dengan beras. Sementara uang, kelak si bayi harus bekerja agar bisa menghidupi keluarganya. Sedangkan empat arah mata angin,  agar si bayi saat dewasa tidak lupa dengan tujuan yang akan dicapai, yakni mencari nafkah yang dilambangkan sejumlah uang dibagian tengah (puseur).
Aki Karma menyebutkan, upacara nurunkeun merupakan upacara adat masyarakat Kampung Ciptagelar yang mempunyai bayi. "Upacara ini dilakukan terhadap bayi yang berumur tiga hari. Setelah langsung diberinama dan dilakukan syukuran, yang ditemani dengan nasi tumpeng dan lalawuhnya," ujar Aki Karma.  sumber//
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BANDUNG

BANDUNG

DPRD KOTA BANDUNG

GEDUNG SATE BANDUNG

GEDUNG SATE BANDUNG
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Media Padjajaran - All Rights Reserved
Original Design by Creating Website Modified by Adiknya