Fatin Shidqia Garap Video Klip Bareng Mikha Angelo
Pasca UN, Fatin Shidqia akhirnya menyempatkan diri untuk menggarap
video klip single terbarunya bertajuk Kaulah Kamuku. Lagu yang diambil
dari album For You ini digarap bareng sama Mikha Angelo dan juga The
Overtunes.
Lewat musik klip single tersebut, mereka berniat untuk saling lebih
dekat dan kenal, terutama Mikha dan Fatin yang dulu sempat masuk
karantina bareng di ajang X Factor Indonesia.
"Senang sih kolaborasi bareng mereka, karena kita sudah saling kenal.
Dan di lagu ini kita pengen nunjukin musik kita yang remaja banget,
aku, Mikha, The Overtunes semuanya masih remaja," kata Fatin, Rabu
(23/4) di TM Studio, Jakarta.
Mikha sendiri selain ingin sama-sama menunjukan musiknya bareng
Fatin, dia sengaja memunculkan bandnya agak lebih dikenal masyarakat
luas.
"Alasan kita kerjasama karena mau ngenalin musik kita. Fatin kan
sudah dikenal masyarakat luas, The Overtunes mudah-mudahan bisa lebih
dikenal lagi juga," ungkap Mikha.
Ya, biar sama-sama saling kenal dan terkenal kan? Sukses buat kalian
Ketua DPP Partai Demokrat, Ikhsan Modjo, tidak yakin calon presiden yang
diusung PDIP, Joko Widodo (Jokowi), bisa memilihara sistem presidensial
multipartai seperti dilakukan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
“Saya ngeri-ngeri sedap setelah 2014 ini sistem presidensial multipartai akan bisa berjalan dengan mulus kalau di tangan Jokowi. Saya sangat meragukan kemampuan Jokowi soal itu,” jelas Ikhsan, Jumat 25 April 2014.
Ia menilai Jokowi bukan pelobi ulung, sehingga kemampuannya menjadi power breaker dan deal breaker menghadapi komposisi parlemen yang rumit nanti diragukan.
“Jangankan (dibandingkan) dengan SBY, dengan Ical atau Mega saja, Jokowi masih jauh,” tuturnya.
Menurut dia, konfigurasi di parlemen periode 2014-2019 relatif tidak mengerucut lantaran sistem parlemen yang dipimpin Jokowi diprediksi bersifat menyebar. Potensi saling jegal antarparpol pun tak terelakkan.
“Polarisasi ini dibutuhkan deal maker untuk menjembataninya. Kalau melihat kualitas Jokowi, saya pesimistis,” ungkapnya.
Hal ini akan diperparah dengan hilangnya wibawa Mahkmah Konstitusi (MK) setelah kasus korupsi yang menjerat Akil Mochtar. Kredibilitas MK dalam menangani kasus-kasus politik pun diprediksi menurun.
“Saya ngeri-ngeri sedap setelah 2014 ini sistem presidensial multipartai akan bisa berjalan dengan mulus kalau di tangan Jokowi. Saya sangat meragukan kemampuan Jokowi soal itu,” jelas Ikhsan, Jumat 25 April 2014.
Ia menilai Jokowi bukan pelobi ulung, sehingga kemampuannya menjadi power breaker dan deal breaker menghadapi komposisi parlemen yang rumit nanti diragukan.
“Jangankan (dibandingkan) dengan SBY, dengan Ical atau Mega saja, Jokowi masih jauh,” tuturnya.
Menurut dia, konfigurasi di parlemen periode 2014-2019 relatif tidak mengerucut lantaran sistem parlemen yang dipimpin Jokowi diprediksi bersifat menyebar. Potensi saling jegal antarparpol pun tak terelakkan.
“Polarisasi ini dibutuhkan deal maker untuk menjembataninya. Kalau melihat kualitas Jokowi, saya pesimistis,” ungkapnya.
Hal ini akan diperparah dengan hilangnya wibawa Mahkmah Konstitusi (MK) setelah kasus korupsi yang menjerat Akil Mochtar. Kredibilitas MK dalam menangani kasus-kasus politik pun diprediksi menurun.




0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !